Jurnalistik Berkelanjutan

Jurnalistik Berkelanjutan
Objektifitas Berita Lingkungan: Jurnalistik Berkelanjutan adalah buku pertamaku. Buku ini mengupas tentang pengalamanku tentang dampak pemberitaan lingkungan yang tidak akurat. Berita yang demikian tidak saja mampu mengguncang kehidupan pribadi seseorang tetapi juga tidak membantu lingkungan. Jika Anda ingin membacanya, Anda bisa menemukan sejumlah cuplikannya di blog ini

Kamis, 08 Juli 2010

Lebih Yakin, Hamparan Hutan Alami itu Masih Terjaga


Pengalaman Pemenang GSA Terbang Mengelilingi Cagar Biosfer GSK-BB


Pemenang pertama Green Student Ambassador (GSA) 2010 yang dinobatkan sebagai Duta Lingkungan Hidup Riau sekaligus Duta Cagar Biosfer Giam Siak Kecil Bukit Batu (GSK-BB), The Chousa, Jumat (2/7) pagi, berkesempatan melihat langsung keindahan Cagar Biosfer GSK-BB. Berbekal golden ticket, personil The Chousa masing-masing M Fauzi Abdullah, Novri Indra, Murad, Hardi dan Joni Kurniawan terbang selama satu jam menggunakan helikopter mengelilingi satu-satunya cagar biosfer inisiasi swasta pertama di dunia itu, Sinar Mas Forestry (SMF).




Laporan LISMAR SUMIRAT dan TYA GSJ, Perawang redaksi@riaupos.com

KABUT tipis menyambut kedatangan pemenang GSA 2010 dari Pekanbaru di lapangan helipad milik Sinar Mas Forestry (SMF) Perawang pagi itu. Hingga pukul 09.00 WIB sebagian lokasi helipad masih diselimuti butiran embun. Kondisi cuaca yang kurang bersahabat ini dikhawatirkan akan menganggu rencana penerbangan para duta lingkungan yang terpilih melalui kegiatan Pemilihan Duta Lingkungan 2010 yang dilaksanakan oleh Save The Earth Foundation (SEFo) Riau Pos.

‘’Kalau masih kabut terpaksa penerbangan kita tunda. Kita cari waktu lain,’’ ungkap Ari Rosadi, Staf Forest Environmental SMF.

Cuaca mendung yang menyelimuti bumi pagi itu kemudian berangsur cerah. Kumpulan embun mulai meninggalkan areal helipad Sinar Mas Forestry. ‘’Oke siap-siap cuaca sudah mulai cerah. Tampaknya rencana terbang jadi kita laksanakan,’’ ucapnya mengingatkan pemenang GSA 2010 untuk bersiap-siap menikmati pengalaman terbang mengelilingi Cagar Biosfer GSK-BB.

Tepat pukul 10.00 WIB, pemenang GSA 2010 mulai diterbangkan perdana mengelilingi Cagar Biosfer SGK-BB dengan menggunakan helikopter berlambung PK-URQ. Mengambil star dari helipad yang terletak di kawasan kantor PT Arara Abadi/Sinar Mas Forestry, Perawang kemudian pilot mulai menerbangkan helikopter berwarna oranye tersebut.
Dari atas udara, helikopter yang dipiloti Aga Yudistira mulai memasuki kawasan penyangga (buffer zone) seluas 222 ribu hektare yang merupakan kawasan Hutan Tanaman Industri (HTI) Sinar Mas Forestry. Kemudian helikopter memasuki kawasan inti (core zone) Cagar Biosfer GSK-BB. Mula-mula di kawasan utama ini rombongan akan dibawa mengelilingi Suaka Marga Satwa Giam Siak Kecil. Kemudian dilanjutkan dengan kawasan konservasi Sinar Mas Forestry hingga mencapai kawasan Suaka Margasatwa Bukit Batu. ‘’Ketiga kawasan inilah yang kemudian disebut sebagai Cagar biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu (GSK-BB). Di zona inti ini juga bisa kita lihat tasik-tasik yang terdapat dalam kawasan cagar biosfer, di antaranya Tasik Air Hitam, Tasik Betung, Tasik Serai dan tasik-tasik kecil lainnya,’’ jelas Ari Rosadi yang juga bertindak sebagai pemandu mengelilingi Cagar Biosfer GSK-BB.

Selama memandu penerbangan, Ari banyak menjelaskan tentang berbagai pemandangan hijau yang terdapat di Cagar Biosfer Giam Siak Kecil Bukit Batu.
‘’Dari atas kita bisa lihat warna-warna daun pohon yang merupakan kanopi alam. Pohon yang berdaun kuning kecoklatan dilindungi oleh pemerintah sesuai dengan undang-undang sebab pepohonan yang berdaun kuning kecoklatan tersebut termasuk tanaman langka,’’ ujar Ari yang sesekali menunjukkan tasik-tasik dari atas helikopter. Takjub. Hamparan hutan yang dipenuhi warna kehijauan di dalam Cagar Biosfer GSK BB masih terjaga kelestariannya. Bukan hanya sekadar digadang-gadangkan masih alami, namun kenyataannya memang hutan nan perawan. Kekaguman ini terpancar dari wajah personil The Chousa yang ikut terbang menikmati pengalaman mengelilingi Cagar Biosfer GSK-BB.

‘’Kalau dulu kami kurang yakin bila di Riau memang masih ada hutan alami seluas ini. Tapi setelah terbang mengelilingi Cagar Biosfer Giam Siak Kecil Bukit Batu ini kami semakin yakin,’’ ucap M Fauzi Abdullah, salah seorang personil The Cousa mengungkapkan komentarnya. Setelah terbang selama satu jam, tepat pukul 11.00 WIB, helikopter yang terbang kembali mendarat di helipad. Kemudian tepat helikopter kembali melanjutkan penerbangan membawa rombongan GSA yang tidak ikut penerbangan perdana karena terbatas kapasitas helikopter. Rombongan GSA yang rata-rata baru pertamakali mengelilingi Cagar Biosfer GSK-BB memakai helikopter, sangat antusias dengan perencanaan rute perjalanan yang dilaksanakan. ‘’Senang sudah pasti, selain itu kami sangat tertarik untuk melihat CB GSK-BB dari atas, hutan perawannya yang membentuk kanopi alam dengan warna-warna hijau dan kuning kecoklatan sangat menarik untuk dilihat dari udara,’’ ujar pria yang akrab disapa Adji ini. Komentar lain diungkapkan oleh Hardi Fachrianto. Walaupun sempat pusing karena pengalaman pertamanya ini namun tetap enjoy dan berusaha menikmati pemandangan yang disungguhkan oleh keindahan CB GSK-BB. Ardi begitu sapaan akrabnya mengaku pengalaman naik helikopter mengelilingi GSK-BB merupakan pengalaman yang tidak akan terulang kedua kalinya. ‘’Saya seperti berada di negeri awan dengan hamparan permadani hijau di bawahnya,’’ tutur Ardi sambil memegangi kepalanya yang sempat pusing sambil diledeki oleh teman-temannya.

Bila di lain waktu mendapat kesempatan serupa, Ardi mengaku tidak akan menolaknya. ‘’Kalau ada sekali lagi bolehlah. Pasti akan lebih terbiasa,’’ sebutnya. Manager Flagship Conservation Program Sinar Mas Forestry, Yuyu Arlan menyampaikan harapannya The Chousa dan kepada para GSA lainnya, untuk bisa mempromosikan Cagar Biosfer Giam Siak Kecil - Bukit Baru pada masyarakat. Sehingga masyarakat mejadi lebih mencintai cagar biosfer satu-satunya di Riau tersebut dan menjadikan kawasan ini sebagai kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Riau. Sebab katanya, saat ini GSK BB bukan lagi hanya milik Riau namun telah menjadi milik Indonesia bahkan milik dunia.

‘’Harapan kita ke depan, GSA mampu mengkampanyekan dan menjelaskan kepada masyarakat tentang keberadaan Cagar Biosfer GSK-BB ini kepada masyarakat. Sehingga bukan kami lagi yang maju dan mempresentasikannya kepada masyarakat atau tamu-tamu dari luar daerah maupun luar negeri namun generasi muda inilah yang maju kedepan untuk mengkampanyekan Cagar Biosfer GSK-BB. Merekalah nantinya yang akan mewarisi semua ini sehingga harus dilibatkan dari sekarang, khususnya kepada GSA ini,’’ pesan Yuyu Arlan. Cagar Biosfer Giam Siak Kecil Bukit Batu bukan hanya tanggungjawab Sinar Mas Forestry sebagai peng-inisiasi namun juga tanggungjawab bersama pemerintah, perusahaan dan masyarakat. Akhirnya Cagar Biosfer ini bisa menjadi penyumbang paru-paru dunia. Pedulikah Anda?(ndi)




0 komentar: