Senin, 28 Februari 2011

Mengunjungi Penangkaran Penyu Hijau: Bila Lapar, Teman Sendiri Dimakan

Mengunjungi Penangkaran Penyu Hijau di Pulau Jemur
Bila Lapar Teman Sendiri Dimakan

Jika petugas di penangkaran penyu hijau (Chelonia mydas) lalai memberi makan, tukik (anak penyu) tak segan untuk memakan temannya sendiri.

Laporan Andi Noviriyanti, Pulau Jemur   andinoviriyanti@riaupos.com

Hari baru saja pukul 11.00 WIB. Langit yang tadi cerah, tiba-tiba mendadak menghitam. Angin kencang dan hujan lebat membuyarkan lamunan kami yang telah lelah melihat ombak dan lautan luas menuju Gugusan Pulau Arwah (Aruah) di Selat Melaka.
Gerakan beberapa awak speedboat yang kami tumpangi bergegas menutup jendela speedboat membuat kami dalam posisi waspada. Apalagi bulan Februari ini dalam laporan Badan Metereologi dan Geofisisika (BMG) dalam status waspada untuk melaut. Bupati Rokan Hilir Annas Maamum sebelum berangkat juga mengingatkan kami untuk mengurungkan niat melihat penangkaran penyu di sekitar Pulau Jemur bila melihat tanda-tanda cuaca buruk.
Share

Senin, 07 Februari 2011

Menyibak Danau Cantik di Tahura SSH


Cerita tentang Taman Hutan Raya Sultan Syarif Hasyim (Tahura SSH), ternyata bukan saja tentang keindahan tingginya puluhan anak tangga yang dibangun memanjat bukit atau pemandangan hutan sekundernya lengkap dengan jogging track-nya. Tetapi ada juga danau cantik di dalamnya yang kerap tak terungkap.

Laporan MASHURI KURNIAWAN, Minas mashurikurniawan@riaupos.com

Secuil informasi tentang danau cantik yang tersembunyi di Tahura SSH yang direncanakan sebagai objek pengembangan wisata alam, mengantarkan Tim Riau Pos For Us untuk menelusuri keberadaan danau tersebut. Tepatnya pada hari pertama di Bulan Februari.


Siang itu, saat tim berkunjung cuaca sedang bersahabat. Hari tidak hujan, padahal sebelumnya hujan selalu turun. Sehingga medan jalan tanah menuju danau itu, tak begitu berat. Walaupun sisa hujan sebelumnya membuat tim harus melangkah hati-hati di tengah-tengah jalan yang becek.

“Yang aku tahu, ini jalan menuju danau,” ungkap salah satu anggota tim, di sebuah persimpangan yang bertuliskan “hati-hati binatang buas, tempat lintasan hewan” dengan gambar Harimau Sumatera di bawahnya. Plang itu lokasinya sekitar 500 meter dari gerbang utama Tahura SSH yang terletak di jalan lintas Pekanbaru – Minas.
Bergidik juga saat melewati jalan itu. Untung saja, akses jalan yang cukup lebar dan terang. Terlihat jelas bahwa jalan itu baru dibuka atau diperlebar. Itu terlihat dari tanah yang baru saja digeledor dan pohon hutan yang terpotong ditepian. Dengan kondisi itu, tim jadi berani untuk melangkah menemukan danau tersebut.

Di kiri kanan sepanjang perjalanan menuju danau, terlihat jelas plang bertuliskan Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GNRHL). Itu menandakan jalan yang tim lalui bukan hutan primer. Ia merupakan hutan sekunder. Meski demikian kondisi pepohonan di tempat itu sudah lebat. Tumbuh sangat rapat dan terlihat gelap di bawah tajuk-tajuk pohon. Monyet-monyet hitam juga terlihat melompat dan bergelantungan di dahan dan ranting-ranting pohon. Selain itu terlihat juga beberapa burung melintas terbang di antaranya.

Setelah melangkah sekitar 1,5 kilometer dengan jalan yang menanjak dan menurun, akhirnya tim menemukan danau itu. Danau itu membentang cantik di sebuah lembah yang dibatasi dua sisi bukit. Sayangnya, bukit yang berada di seberang tempat tim berdiri adalah hamparan kebun sawit. Sehingga keindahan danau itu hanya terlihat ketika mata ditujukan ke bagian hilir tepian bukit yang berasal dari arah tim datang.

Mulanya tim berpikir, danau itu tersembunyi di balik Tahura dan tak terakses sebagai tempat wisata. Namun setelah melihat kebun sawit di seberangnya dan terlihat dua perahu, serta sejumlah anak-anak bergelak tawa dan bermain di bagian hulu danau, tim pun menduga ada jalan lain menuju danau tersebut selain lewat medan berat dari tahura.

Ternyata benar, setelah tim berjalan memutar mencari cara untuk mendekati anak-anak yang terlihat bersenda-gurau tadi, tim menemukan akses jalan lebih dekat ke jalan raya dibandingkan lewat tahura. Tepatnya tak jauh dari bagian belakang halaman Hotel Rindu Sepadan.

Apep, salah seorang petugas tahura yang keesokannya Riau Pos wawancarai, menyebutkan cerita tentang danau itu memang tak banyak terpublikasi. Pasalnya, menurut petugas yang tergolong paling lama bekerja di tahura tersebut, danau itu sebenarnya hanyalah sungai yang dibendung. “Danau itu terbentuk akibat perusahaan ikan arwana membendung Sungai Takuana. Jadi memang tidak ada namanya,” ujar Apep menjawab pertanyaan Riau Pos apa nama danau tersebut.

Danau tersebut menyimpan cukup banyak ikan. Setidaknya itu terlihat dari hasil tangkapan ikan dan cerita anak-anak yang bergelak tawa tadi. Ternyata sambil bermain dan mandi mereka juga menjala ikan.

“Cukup banyak ikannya di sini Bang,” ujar salah seorang dari mereka. Mereka juga menyebutkan beberapa jenis ikan yang biasa mereka temui di tempat itu. Yakni baung (Macrones planiceps), gabus (Chana pleurothalmus), mujair (Tilapia pleurothalmus), sepat (Trichogaster trichopterus), puyu (Anabas testudeneus), dan jenis ikan air tawar lainnya.

***
Cerita danau itu memang tak banyak terungkap. Mengingat Tahura SSH terbilang luas, yakni 6.172 hektare dan meliputi tiga wilayah kabupaten/kota, yakni Kota Pekanbaru, Kabupaten Siak dan Kampar.

Tahura SSH memiliki keane-karagaman hayati yang cukup tinggi. Terdapat 127 flora dan 42 fauna. Beberapa di antaranya merupakan fauna dan flora langka. Misalnya beruang madu, harimau Sumatera, tapir, burung srigunting, burung gagak, babi hutan, dan jenis hewan lainnya.

Dengan berbagai potensi dan kekayaan keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya. Kawasan tersebut ke depan diproyeksikan menjadi magnet wisata baru di Riau.
Itu sebabnya, menurut Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Tahura Dinas Kehutanan Provinsi Riau, Ir Fredrick Sully MM, Rabu (2/2) banyak perbaikan yang dilakukan di tahura. Misalnya tentang akses jalan menuju danau. Jalan itu, katanya, memang baru saja diperlebar dan bantuan dari pihak ketiga yang perduli dengan alam. Keindahan danau, tambahnya, yang pemikat pihak ketiga tersebut.
‘’Jalan menuju danau memang sedikit rumit karena hanya tanah kuning. Danau ini merupakan anu-gerah bagi kita semua,’’ ujarnya kepada Riau Pos saat dihubungi melalui selulernya.

Dia menyebutkan danau tersebut akan dikembangkan sebagai wisata tirta. Master plan mengenai rencana pengembagan wisata itu sudah dilakukan Dinas Kehutanan (Dis-hut) Riau.

Selain itu, juga akan dikembangkan berbagai sarana prasarana penunjang rekreasi. Misalnya sepeda air dan bebek air untuk atau uji nyali dan ketangkasan lewat sarana adventure seperti flying fox, elfis bridge, spider climbing, speed boat, memancing, berenang atau bahkan melihat aneka satwa asli Riau.

‘’Kami ingin membuat pengunjung merasa tenang di tengah kawasan hutan yang eksotis. Layaknya magnet baru tujuan wisata bagi warga di Kota Pekanbaru maupun masyarakat di Riau,’’ terang Fredrick Sulli

Selain itu, menurut Fredrick saat ini Tahura telah memiliki berbagai fasilitas. Misalnya guest house dengan tujuh kamar, pusat informasi, pendopo, gazebo, musala, areal tempat bermain, lapangan luas dan bumi perkemahan. Selain itu ada fasilitas jalan menuju bumi perkemahan Pramuka, Pusat Latihan Gajah (PLG), dan Danau Tahura.
Hutan Tahura SSH, tambahnya, merupakan track pendidikan atau wisata pendidikan paling pas yang dikembangkan. Menurutnya saat ini sedang trend kegiatan ekstraku-rikuler lingkungan di sekolah-sekolah yang melakukan kunjungan-kunjungan ke hutan. Sebagai wisata pendidikan, pengembangan Tahura sebagai sarana pendidikan. Sekaligus juga dalam mendorong peran serta program Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan untuk membantu mengembangkan Tahura.

Dari penuturan Fredrick, pengawasan keliling oleh anggota pengamanan hutan secara intens dilakukan. Untuk mencegah terjadinya pembalakan liar dan pemburu liar. Sosialisasi kepada masyarakat yang hidup berdekatan dengan hutan Tahura SSH, sambungnya juga dilakukan.

‘’Sosialisasi kepada masyarakat mengenai pemeliharaan lingkungan hutan juga dilakukan untuk menjaga kawasan hutan tetap asri dan indah. Keseimbangan alam disekitar memang harus dilakukan secara bersama,’’ ujarnya.
***

Selain memiliki pesona keindahan, Tahura SSH juga diyakini masih menjadi habitat bagi Harimau Su-matera (Panthera tigris suma-trae). Sub-spesies harimau satu-satunya yang masih dimiliki Indonesia setelah dua saudaranya Harimau Bali (Panthera tigris balica) dan Harimau Jawa (Panthera tigris sondaica) dinyatakan punah.

Hal itu menurut Apep, dibuktikan dari jejak kaki harimau. Jejak harimau tersebut, katanya, dalam bentuk jejak tapak kaki harimau. Diperkirakan ada dua harimau yang masih ada di dalam hutan tersebut.

Hanya saja, kata Apep, dua he-wan ini tidak mengganggu manusia. Dikarenakan, di dalam kawasan hutan masih ada makanannya. Mereka (dua harimau, red), sambungnya, mencari mangsa babi hutan. ‘’Babi hutan masih banyak populasinya di dalam kawasan Hutan Tahura SSH. Harimau ini sudah memiliki makanan jadi tidak mengganggu manusia. Dua ekor saya perkirakan masih ada didalam hutan Tahura,’’ sebutnya kepada Riau Pos melalui selulernya seraya mengatakan hanya saja berapa ukuran panjang dan bobot harimau tidak diketahui.

Semoga semua keindahan dan potensi Tahura SSH ini tetap ter-jaga.(ndi)
Share

Selasa, 04 Januari 2011

Hari-Hari Lingkungan Hidup

10 JANUARI: HARI SEJUTA POHON
02 PEBRUARI: HARI LAHAN BASAH
21 PEBRUARI: HRI PEDULI SAMPAH
20 MARET: HARI KEHUTANAN SEDUNIA
22 MARET: HARI AIR
22 APRIL: HARI BUMI
22 MEI: HARI KEANEKARAGAMAN HAYATI
05 JUNI: HARI LINGKUNGAN HIDUP SEDUNIA
16 SEPTEMBER: HARI OZON INTERNASIONAL
05 OKTOBER: HARI HABITAT
05 NOPEMBER: HARI CINTA PUSPA DAN SATWA NASIONAL
Share

Senin, 03 Januari 2011

Kalau Tak Tahan, Demam Dua Hari


Melihat Peternakan Lebah di SMAN1 Pangkalankerinci

Punya ekstrakurikuler peternakan lebah? Wah, pasti ngeri-ngeri sedap. Ngeri karena sengatan lebahnya. Sedap karena manis madunya dan tentunya bisa sedikit show off punya ekstrakurikuler yang tak bisa dikatakan biasa.

Laporan Andi Noviriyanti dan Gus GSJ, Pangkalankerinci andinoviriyanti@riaupos.com



Meski ngeri-ngeri sedap, tetapi puluhan siswa-siswi SMAN 1 Pangkalankerinci tetap saja memilih mengikuti ekstrakurikuler yang penuh tantangan itu. Meskipun kadang-kadang dilanda ketakutan juga saat operasi lebah yang rutin dilaksanakan dua minggu sekali dilaksanakan. Di mana mereka memiliki tugas untuk melakukan perawatan sarang lebah yang berbentuk kotak tersebut.

Bayangkan saja, mereka harus membersihkan kotoran lebah di sela-sela sisirannya yang penuh dengan gerombolan lebah itu. Atau mereka harus memberikan oli pada tiang penyangga dan membuang telur calon ratu agar tidak terbentuk koloni baru. Nah, kalau lebahnya lagi tidak bersahabat, alamat lima sampai sepuluh sengatan lebah harus mereka rasakan.

Itu sebabnya, bagi siswa-siswi yang baru bergabung dalam ekstrakurikuler ini, tidak akan berani dekat-dekat saat operasi lebah dilaksanakan. Setidaknya, Kamis (23/12) dua pekan silam, Riau Pos bersama puluhan siswa-siswi ekstrakurikuler BeeSaa harus menjaga jarak dan siap-siap kabur, saat Agus Yogi Radi Pradipta, Ketua Ekstrakuler BeeSaa melakukan operasi lebah untuk menunjukkan madu lebah yang terperangkap di sela-sela sisiran sarang lebah.

Namun bagi siswa-siswi BeeSaa yang sudah senior, mereka tak lagi khawatir dengan sengatan lebah. “Memang sakit pertama disengat lebah. Jika tidak tahan antibodinya maka bisa demam selama dua hari. Tapi kalau sudah terbiasa, sepuluh sengatanpun tidak apa-apa,” ungkap Bayu Saputra, anggota BeeSa, Selasa (28/12) sore, yang hari itu bertugas bersama rekan-rekannya melaksanakan operasi lebah.

Bayu menambahkan, kalau sudah terbiasa disengat lebah, maka paling-paling mereka hanya merasakan bengkak sedikit selanjutnya akan sembuh dengan sendirinya. Meskipun begitu, anak-anak BeeSaa tetap melakukan proses operasi lebah dengan perlengkapan standar. Misalnya mereka menggunakan alap pengasap untuk menjinakan lebah madu yang agresif, masker dan baju pelindung.

Selain harus berani, para siswa yang ikut ekstrakurikuler BeeSaa ini juga harus telaten dan dan mau berkorban waktu untuk merawat lebah-lebah mereka. Jadi, meskipun waktu libur panjang sekolah, tetap saja, di antara mereka harus ada yang melakukan operasi lebah.

***
Menurut Salmiati MPd, pembina ekstrakurikuler BeeSaa, kegiatan ekstrakuler itu dilatarbelakangi karena dulu Pangkalankerinci terkenal sebagai daerah penghasil madu lebah. Itu karena dulu, Pangkalankerinci sangat kaya dengan hutan alam dataran rendah. Namun sekarang seiring dengan makin berkembangnya Kota Pangkalankerinci maka hal itu jadi berkurang.

“Oleh karena itu, kami ingin mempopulerkan kembali. Sekaligus memperkenalkan kepada masyarakat, bahwa lebah madu itu tidak saja dapat diambil dari alam. Tetapi juga dapat diternakan,” ujar perempuan yang biasa dipanggil Cik Salmi oleh siswanya ini, Jumat (31/12) petang.

Sementara tujuan di sekolah untuk media pembelajaran bagi warga sekolah khususnya siswa untuk cinta lingkungan dan lebih dekat dengan alam. Karena dalam usaha peternakan lebah itu, syarat terpenting bahwa sekolah tersebut harus rindang dengan pepohonan dan dipenuhi oleh bunga-bunga. Kalau itu tidak ada, maka tidak mungkin bisa didapatkan madu.

Selain itu, ekstrakurikuler BeeSaa sekaligus menjadi laboratorium alam bagi para siswa untuk belajar tentang insekta. “Kita tahu, bahwa lebah itu mengalami metamorfosis sempurna. Nah, dengan beternak lebah, maka para siswa akan lebih jelas tentang hal itu. Begitu juga bagaimana keterkaitan pentingnya keseimbangan alam. Terlihat bahwa lebah tidak bisa menghasilkan madu tanpa ada tumbuhan berbunga di sekitarnya. Yang jelas banyak hal yang bisa dipelajari siswa lewat ekstrakurikuler ini,” lanjutnya.

Ditanya bagaimana awal mulanya ekstrakurikuler ini terlaksana? Cik Salmi, menceritakan bahwa kegiatan ini telah dirintis sejak tahun 2007 lalu. Dimulai dengan melakukan observasi lapangan dan mengikuti pelatihan peternakan lebah di Kabupaten Kampar. Setelah mendapat bekal ilmu yang cukup maka mereka melakukan uji coba mengembangkan satu block (satu kotak sarang lebah) di SMAN 1 Pangkalankerinci.
Ternyata hasilnya cukup memuaskan. Maka tahun 2008 mereka mengembangkannya menjadi lima block. Setelah itu dikembangkan lagi tahun 2009 dengan dua block tambahan. Pada tahun 2009 itu juga, ternyata para siswa berhasil pula mengembangkan dua block hasil tangkaran sendiri.

“Dulu semua bibit lebahnya dibeli. Namun tahun 2009, sudah ada yang ditangkarkan sendiri. Jadi totalnya sekarang ada sembilan,” ujar Salmiati.
***

Sarang lebah yang diternakan oleh ekstrakurikuler BeeSaa ini berbentuk kotak persegi panjang. Warnanya putih. Jumlahnya ada sembilan. Terletak berdiri di beberapa bagian sudut sekolah. Salah satunya di tepi lapangan bola, di halaman belakang sekolah.

Dulu di luar halaman belakang sekolah ini, terdapat rimbunan pepohonan yang cukup luas. Sehingga, lebah-lebah yang mereka ternakan cukup bisa memenuhi kebutuhan pakan mereka. Tetapi beberapa waktu terakhir ini, rimbunan pepohonan yang terdapat di sekitar areal sekolah mereka sudah mulai ditebangi. Kabarnya akan dijadikan perumahan.

Memandangi sekeliling sekolah mereka tak lagi rimbun dengan pepohonan menjadi kekawatiran tersendiri bagi anak-anak BeeSaa. Sebab tanpa rimbunan pepohonan itu, lebah-lebah mereka akan kesulitan mencari pakan. Bila itu terus menerus terjadi, alamat peternakan lebah mereka tinggal kenangan.

“Kita sudah mengantisipasinya dengan mengusahakan untuk melakukan penghijauan di sekolah. Termasuk juga melakukan penanaman bunga-bungaan. Tapi jumlahnya sangat terbatas. Kita tidak punya banyak biaya untuk membeli bibit dan melakukan perawatan. Jadi kami berharap ada pihak-pihak yang bisa membantu melakukan upaya penghijauan di Sekolah kami. Seperti memberikan bibit gratis, pupuk dan mungkin pot bunga,” ujar Cik Salmi yang saat ini juga menjabat sebagai Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan.

Selain persoalan penghijauan, persoalan peternakan lebah madu juga menghadapi persoalan kekurangan sarana dan prasarana peternakan lebah. Menurut Agus Yogi, akibat kurangnya sarana prasarana tersebut, seluruh anggota Beesa tidak bisa melaksanakan praktek secara leluasa. Ilmu yang mereka dapat pun tidak maksimal.
Misalnya, menurutnya, masker baju saat ini hanya tersedia satu buah saja. Begitu juga dengan sarung tangan juga masih sangat kurang. Semua itu, tambahnya, menyulitkan anggota BeeSa untuk beraktivitas secara bersamaan. Apalagi jika ada tamu dari sekolah atau organisasi lain yang ingin melihat dan mencoba secara langsung cara berternak lebah. Maka para anggota BeeSa hanya dapat menceritakan dan memberikan teori tanpa praktek.

Semoga ada pihak-pihak yang mau membantu BeeSaa bertahan dengan melakukan penghijauan di sekolah mereka serta melengkapi sarana prasarana mereka beternak lebah.***

Share

Minggu, 26 Desember 2010

Lima Tahun, Satu Pelukan


Melihat Kebun Bibit Rakyat di Pelalawan


Hanya butuh waktu lima tahun untuk mendapatkan pohon jabon (Anthocepalus cadamba) berdiameter satu pelukan orang dewasa dengan tinggi di atas 12 meter. Pohon berprospek cerah bernilai ratusan juta per hektare ini, menjadi primadona di Program Kebun Bibit Rakyat (KBR) di Kabupaten Pelalawan. Bahkan, ada yang rela mengganti tanaman sawitnya dengan jabon.

Laporan Andi Noviriyanti, Pelalawan
andinoviriyanti@riaupos.com


“Coba tebak berapa umur pohon ini?” tanya Pramono, Ketua Kelompok Pengelola KBR Dejabon, Rabu (22/12) siang. Riau Pos pun memandangi pohon yang dimaksud Pramono. Tinggi pohon itu sedikit lebih tinggi dari dirinya yang kira-kira 170 Cm. Diameter pohonnya sekitar 7 Cm.

“Pohon ini umurnya baru enam bulan,” ujarnya tak sabar menunggu jawaban Riau Pos. “Pohon jabon ini sedang jadi primadona di mana-mana. Nilai jual kayunya tinggi, cepat besar, lima tahun sudah bisa dipanen. Bagus untuk meubel, plywood,” paparnya lagi.

Tak sampai di situ, Pramono pun melanjutkan ceritanya bahwa areal tempat dia membibitkan jabon itu adalah kebun sawit. “Sawitnya kami dorong ke danau (bagian curam yang tak jauh dari tempat itu). Jabon ini lebih menguntungkan dari sawit. Beberapa tahun ke depan orang akan ramai-ramai mengganti sawitnya dengan jabon,” ujarnya.

Jabon atau di Riau dikenal dengan nama klampayan dan bongkal gajah sebenarnya bukan jenis pohon baru. Pohon ini banyak ditemui di Riau khususnya di tepian sungai. Namun, namanya baru beberapa tahun belakangan ini melambung, khususnya di Pulau Jawa seiring dengan menipisnya pohon alam untuk memenuhi kebutuhan meubel dan plywood. Pohon ini banyak dikembangkan sebagai hutan tanaman rakyat dan sudah bisa dipanen dalam waktu umur lima tahun.

“Kalau di internet-internet, harga kayu jabon dalam satu hektarenya bisa Rp750 juta. Kita nggak usalah mengharap yang seperti itu, kalau satu hektarenya bisa Rp250 juta saja masyarakat sudah untung,” ujar Tohaji, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Kebun Bibit Rakyat Dinas Kehutahanan Pelalawan yang hari itu bersama Riau Pos dan rombongan mengunjungi KBR di Kabupaten Pelalawan.

Hitung-hitungannya, menurut Tohaji, diambil dari harga satu kubik kayu harganya Rp1-1,5 juta. Di dalam satu hektare bisa ditanam dengan jarak 4 x 5 meter. Berarti dalam 1 ha bisa 500 batang. Satu pohon satu kubik. Dengan demikian dalam jangka waktu lima tahun, masyarakat bisa mendapatkan uang ratusan juta.

Sementara modal masyarakat tidak terlalu besar. Hanya dibutuhkan perawatan selama satu tahun. Kemudian jabon sudah bisa mandiri. Tidak seperti sawit yang harus dipupuk dan dirawat terus menerus.

Dengan keunggulan itulah, maka ketika ada program Kebun Bibit Rakyat (KBR) dari Kementerian Kehutanan melalui Balai Pengelola Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Indragiri Rokan dan Dinas Kehutanan Kabupaten Pelalawan, pembibitkan jabon menjadi pilihan masyarakatnya.

Dari dua KBR yang Riau Pos kunjungi hari itu, yaitu KBR Dejabon di Desa Pangkalan Kerinci Barat, Kecamatan Pangkalankerinci dan KBR Ma’cik Manja di Kelurahan Pangkalan Bunut, Kecamatan Bunut terlihat dua-duanya membibitkan jabon. Walaupun KBR Ma’Cik Manja tidak semuanya, mereka hanya membibitkan sekitar 15 ribu batang. Alasannya, kata Ketua Kelompok Pengelola Syamsi Nurdin, belum terlalu ahli membibitkan jabon.

Untuk melihat prospek jabon, Riau Pos juga diajak berkunjung ke kantor perwakilan PT Arjuna Perdana Mahkota Plywood di Pelalawan, sebuah perusahaan yang siap menampung kayu jabon dari masyarakat. Di kantor sederhana itu, Riau Pos melihat bagaimana pintu, meja, kursi dan triplek yang terbuat dari kayu jabon. Warna kayunya putih kekuning-kuningan. Kalau diangkat, kayunya cukup ringan. Selain itu di bagian depan juga terlihat contoh pohon jabon berumur dua tahun. Pohon itu sudah dipotong bagian atasnya, sehingga yang tertinggal bagian bawah dan sedikit pangkal akar. Diameter kayunya sekitar 10-15 Cm.

“Wah, kalau kayu Meranti ni, umurnya sudah sekitar puluhan tahun,” ujar Wiwit dari BPDAS Indragiri Rokan yang ikut serta berkunjung. Pohon jabon memang cukup luar biasa cepat besarnya. Di dalam brosur PT Arjuna, terlihat gambar pohon jabon yang tengah dipeluk seorang pria dewasa. Tercatat di bawahnya, pohon jabon umur lima tahun.

Sebelum ke Pelalawan, Riau Pos juga sempat menyaksikan pohon jabon di halaman samping Kantor BPDAS Indragiri Rokan. Pohon jabon yang berumur dua tahun itu, tingginya sekitar 10-12 meter. Pohonnya tinggi lurus dengan bentuk daun lebar seperti jati.

Pohon ini digadang-gadangkan menjadi bahan baku plywood masa depan. Pasalnya, menurut Tohaji, saat uji coba pembuatan plywood dari pohon jabon umur 3 tahun terlihat bagaimana kayu pohon ini tidak retak. “Kayu jabon tak banyak matanya, jadi tidak pecah bahkan sampai ke bagian akhir kayu,” ujar Tohaji.
***

Jabon menjadi salah satu jenis pohon yang dapat dipilih masyarakat untuk dibibitkan dalam program KBR. Program KBR sendiri, menurut Kepala BPDAS Indragiri Rokan Achmad Wratsongko, Rabu (22/12), merupakan bagian dari program menanam satu miliar pohon atau yang dikenal juga dengan One Billion Indonesian Trees for The World (OBIT). Program itu untuk mencapai komitmen Indonesia dalam menurunkan emisi karbon sebesar 26 persen. Dengan dasar hukum Intruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2010.

“Untuk mencapai target penanaman satu miliar pohon tersebut tidak mungkin dilaksanakan oleh pemerintah atau organisasi massa saja, tetapi harus melibatkan semua pihak. Untuk itulah masyarakat luas juga dilibatkan. Agar ada rasa kepemilikian, maka penyediaan bibitnya dilaksanakan oleh masyarakat. Dengan cara alih kelola melalui kelompok pengelola yang nantinya dapat menyediakan bibit untuk kebutuhan masyarakat,” papar Achmad.

Tiap-tiap unit kelompok pengelola diberikan bantuan dana sebanyak Rp50 juta namun dengan konsekwensi harus menyediakan minimal 50.000 bibit sesuai dengan keinginan masyarakat atau anggota kelompok. Dengan demikian, masyarakat tersebut, mau menanam bibit-bibit itu yang kepemilikan dan manfaatnya menjadi hak milik yang menanam dan memelihara bibit tersebut.

Dengan demikian lewat program itu sudah tertanam sekitar 400 juta pohon baru yang ditanam secara swadaya oleh masyarakat. Baik di lahan kritis, lahan tidak produktif, lahan kosong, fasilitas umum, sekolah atau yang lainnya.

“Di seluruh Indonesia dibentuk 8.000 unit kelompok pengelola. Jadi total dana yang disediakan pemerintah Rp4 miliar. Diambil dari anggaran APBNP (Anggaran Pendapatan Belanja Negara Perubahan (APBNP). Ini merupakan kesepakatan Menteri Kehutanan dan DPRRI,” lanjut Achmad menerangkan tentang program ini.

Selanjutnya di Riau sendiri, menurut Achmad ada 128 unit KBR yang tersebar di tujuh kabupaten di Riau. Ketujuh kabupaten itu adalah Rokan Hulu, Pelalawan, Siak, Bengkalis, Indragiri Hulu, Indragiri Hilir, dan Kepulauan Meranti.

“Wilayah kerja kita sebenarnya sampai ke Sumatera Barat. Jadi totalnya sebenarnya ada 242 unit. Jadi 128 di Riau dan 118 di Sumatera Barat. Kegiatan itu juga dilaksanakan di tujuh kabupaten di Sumatera Barat yakni Payakumbuh, Sijunjung, Limapuluhkota, Sawahlunto, Tanahdatar, Kota Solok, dan Kabupaten Solok,” ujarnya.

Selanjutnya Heri Soleh, Kasi Program BPDAS Indragiri Rokan, menjelaskan bahwa program KBR baru mulai berlaku pada Oktober 2010. Dengan masa pembibitan selama tiga bulan. Dengan demikian, bibit-bibit tersebut dapat ditanam pada tahun 2011.
Mengenai pembayaran KBR tersebut langsung dari Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) ke rekening kelompok pengelola. Jadi tidak singgah ke mana-mana namun langsung ke rekening kelompok.

Selanjutnya, Heri menjelaskan bahwa pembayaraan KBR dilakukan secara bertahap. “Awalnya diberikan Rp15 juta sebagai DP, selanjutnya diberikan sebesar 60 persen jika pelaksanaan program pembibitan sudah 60 persen. Selanjutnya diberikan sisanya yang 40 persen jika sudah dilaksanakan tuntas,” jelasnya.

Tentang manfaatkan program KBR tersebut, menurut Pramono, sangat mereka rasakan. Menurutnya itu menjadi tambahan modal bagi upaya bertanam jabon yang mereka laksanakan. “Kalau saat ini, sebenarnya untuk membibitkan jabon dengan nilai Rp1.000 per bibit (Rp50 juta dibagi 50.000 bibit) sebenarnya rugi. Namun untuk jangka panjang baru menguntungkan. Saat bibit-bibit jabon ini sudah tumbuh dan bisa dipanen,” ulasnya

Hal senada juga diungkapkan Syamsi Nurdin, Ketua Kelompok Pengelola KBR Ma’cik Manja yang mengembangkan bibit karet dan jabon. “Kalau hitung-hitungan harga bibit karet, untuk stek belum diapa-apakan (belum dimasukkan ke polybag dan dirawat) saja sudah Rp3.000,” ujarnya.

Namun mereka berdua tetap bersyukur dengan adanya program tersebut. Setidaknya membantu dalam menyediakan bibit bagi kebutuhan masyarakat untuk melakukan gerakan penghijauan. Sekaligus juga meningkatkan perekonomian masyarakat karena bibit yang ditanam dipulangkan kembali untuk masyarakat yang menjadi anggota kelompok atau menanam dan merawatnya.***

Share
Memuat...