This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Jurnalistik Berkelanjutan

Jurnalistik Berkelanjutan
Objektifitas Berita Lingkungan: Jurnalistik Berkelanjutan adalah buku pertamaku. Buku ini mengupas tentang pengalamanku tentang dampak pemberitaan lingkungan yang tidak akurat. Berita yang demikian tidak saja mampu mengguncang kehidupan pribadi seseorang tetapi juga tidak membantu lingkungan. Jika Anda ingin membacanya, Anda bisa menemukan sejumlah cuplikannya di blog ini

Minggu, 27 Juli 2008

Hutan larangan Adat Kenegerian Rumbio, Bertahan di Negeri yang Gundul

Kearifan lokal masyarakat Kenegerian Rumbio telah membuat hutan larangan adat
mereka bertahan di tengah negeri gundul bernama Riau.

Laporan Andi Noviriyanti, Kampar
andi-noviriyanti@riaupos.co.id

Hawa segar langsung saja menyambar kulitku siang itu (19/6), saat melangkah masuk ke dalam Hutan Larangan Adat Kenegerian Rumbio, Kabupaten Kampar, sekitar 48 kilometer dari Kota Pekanbaru. Tajuk pohon yang menutup langit hutan, membuat cahaya matahari hanya bisa mencuri masuk. Memberi terang seadanya sehingga tak mampu melawan kesejukan di dalam hutan itu. Sehingga berada di dalamnya tak jauh beda di dalam gedung yang ber-AC (air conditioner). Bahkan mungkin udara di hutan itu lebih segar udaranya.

Memadang ke bawah, tempat kakiku berpijak yang terlihat hanyalah hamparan daun-daun kering yang membentang seperti karpet coklat. Lalu memandang ke sekeliling, terlihat sejumlah pepohonan besar yang tinggi menjulang. Beberapa di antaranya ku kenal sebagai meranti, pulai, jelutung, dan kempas. Satu pohon besar yang ada di hadapanku, rasanya cukup untuk bisa mengisi satu bak truk cold diesel. Kalaulah pohon-pohon di hutan ini ditebang, pastilah banyak uang yang bisa didapat.

Namun entah apa yang terpikir oleh masyarakat di Kenegerian Rumbio ini sejak dulunya? Mengapa mereka memilih mempertahankan hutan itu dan memberinya dokrin sebagai hutan larangan adat? Dimana tak boleh dirambah atau dialihfungsikan dan tak pula boleh ditebang kayunya. Kecuali seizin ninik mamak yang diputuskan dalam rapat adat. Itupun hanya untuk keperluan pembangunan mesjid, musholla, jembatan dan rumah bagi para janda yang sangat miskin

Padahal kalau masyarakat di Kenegerian Rumbio ingin mengejar uang, mereka bisa saja menebang kayu-kayu di hutan itu. Apalagi kayu di hutan itu pasti banyak, karena luas totalnya mencapai 530 hektar. Yang membentang dalam enam kawasan rimbo (hutan), yaitu rimbo potai, rimbo silayang-layang, rimbo koto nagaro, rimbo pematang kulim, rimbo cubodak mangkarak dan rimbo panoghan.

Tapi itulah yang luar biasa dari kearifan lokal masyarakat Kenegerian Rumbio. Hingga sampai saat ini hutan larangan adat itu tetap saja bertahan. Meskipun kini di kiri kanannya penuh dengan kebun karet dan beberapa bagian kebun kelapa sawit serta lintasan jalan yang bisa diakses dengan mobil membelahnya.

Tak banyak alasan yang dikemukan para tetua adat di kenegerian itu menjawab pertanyaan mengapa mereka menetapkan kawasan itu sebagai hutan larangan adat. Datuk Ulak Simano Kamaruzzaman yang menjadi Pucuk Adat Kenegerian Rumbio hanya berujar sederhana. “Cam apo dulu, cam ituloh kini (seperti apa dulu, seperti itu pulalah kini),” ujarnya dengan tenang.

Sebuah ungkapan sederhana namun mampu mengikat seluruh masyarakat di kenegerian itu. Termasuk saat ada investor yang menawarkan uang masuk dengan cara mengalihfungsikan kawasan itu menjadi kebun kelapa sawit yang kini tengah booming. “Itu hutan larangan. Tak bisa dialihfungsikan. Hutan ini bagi kami adalah condi. Tanda masyarakat di kenegerian ini masih beradat. Kalau hutan larangan ini sudah tidak ada lagi, maka tidak ada pulalah adat istiadat yang bisa berlaku lagi di kenegerian ini,” ungkap Datuk Godang Edi Susanto yang menjadi Pucuk Pimpinan Adat Kenegerian Rumbio menjelaskan arti penting hutan itu bagi masyarakat adat di negerinya.
***

Meskipun pada dasarnya perlindungan hutan larangan adat di kenegerian itu lebih disebabkan alasan adat, namun bila ditelaah lebih lanjut secara ilmiah, ternyata kearifan lokal itu memiliki makna yang luar biasa bagi desa-desa di kenegerian tersebut. Ternyata berdasarkan peta giografis terlihat posisi hutan tersebut berada di atas bukit, di mana di bawahnya terdapat areal pertanian, perkampungan penduduk dan ditutup dengan belahan Sungai Kampar.

“Bisa dibayangkan kalau tidak ada hutan larangan itu, masyarakat di desa-desa Kenegerian Rumbio yang berada di kaki bukit ini akan dilanda banjir bandang dan longsor,” ujar Masriadi, salah seorang anak kemenakan di Kenegerian Rumbio yang kini memimpin Yayasan Pelopor.

Pernyataan itu lebih diperkuat lagi, jika dilihat bentangan peta kawasan hutan larangan adat itu. Di mana hutan itu tumbuh memanjang. “Lebarnya paling luas hanya 1 km. Namun panjangnya mencapai 10 km dan berada mengelilingi bukit. Hutan larangan adat ini menjadi benteng pertahanan bagi desa-desa di kenegerian Rumbio yang membentang di sepanjang Sungai Kampar,” tambah pria kelahiran asli Kenegerian Rumbio tepatnya di Padangmuntung, 13 Juli 1969.

Kearifan lokal masyarakat Kenegerian Rumbio makin terasa lagi manfaatnya tak kala melihat ada mata air di kaki bukit hutan larangan adat tersebut. Setidaknya, menurut Masriadi di tempat itu ada delapan titik mata air. Airnya sangat jernih, tak ubahnya seperti air mineral kemasan. Hingga tak jarang masyarakat di kawasan itu banyak yang langsung meminum air itu tanpa dimasak.

Air yang dihasilkan di kaki bukit itu ternyata tak saja dimanfaatkan oleh masyarakat di sekitarnya. Tetapi sebagian besar juga dijual ke daerah sekitarnya. Bahkan hingga ke Bangkinang, ibu Kota Kabupaten Kampar yang jaraknya sekitar 15 km dari tempat itu dan juga Panam, perbatasan Kota Pekanbaru dan Kabupaten Kampar. Air yang dijual tersebut sampai ke konsumen dengan cara diantar dengan becak honda atau mobil pick up para penjual air.

”Pokoknya rumah makan di sepanjang jalan dari Pekanbaru ke Kampar ini, rata-rata memanfaatkan air dari mata air ini. Soalnya airnya sangat jernih,” ungkap Hamka dan Yuhermis, Ketua Divisi di Yayasan Pelopor yang juga anak kemenakan Kenegerian Rumbio.

Keberadaan sumber mata air itu memang memberikan kontribusi penting bagi masyarakat di kenegerian tersebut. Pasalnya air dari Sungai Kampar ataupun sumur warga tak banyak yang bisa diharapkan menjadi air minum, karena keruh. Itulah sebabnya di kenegerian itu banyak warga yang mengambil langsung ari di mata air itu atau membelinya kepada penjual air. Bahkan Heri (28), salah seorang penjual air di tempat itu telah menggantungkan kehidupannya lima tahun terakhir ini dari mata air itu.

Kalau hutan larangan adat itu tidak ada lagi, maka kekayaan air bersih di kenegerian itupun bisa jadi akan menghilang. Krisis air bersihpun bisa terjadi. Namun sekali lagi kearifan lokal masyarakat Kenegerian Rumbio sejak ratusan tahun silam telah membuat negeri itu tak pernah kesulitan air bersih, sekalipun di musim kemarau yang sangat panjang.
. ***

Hutan Larangan Adat Kenegerian Rumbio sampai kini memang terjaga dengan baik. Tak ada yang mampu merambahnya apalagi menebang pohon di dalamnya. Jikalapun ada juga anak kemenakan yang nekat, maka sanksi adat langsung diberikan. ”Kok tatayok kembalikan, kok tamakan muntakan (kalau terambil kembalikan, kalau termakan muntahkan,” ujar Datok Godang tentang sanksi yang diberikan.

Tetapi seiring dengan perkembanganya zaman, hanya kaum tua atau para ninik mamak yang memegang teguh adat istiadat itu. Sementara kaum mudanya, sekitar 50 persen tidak begitu tertarik mempertahankan hutan larangan adat itu. Hal itulah yang kini menjadi kekhawatiran para anak kemenakan Kenegerian Rumbio yang ingin mempertahankan hutan larangan adat itu. Terutama Yayasan Pelopor yang berdiri tahun 2000 lalu.

Karena pemuda-pemuda yang tergabung di dalam itu secara tidak sengaja adalah perwakilan dari lima suku yang ada di kenegerian itu, yaitu Domo, Peliang, Putupang, Kampai dan Caniago mereka pun berikhtiar untuk mempertahankan hutan larangan adat itu dengan aturan tertulis. Agar ke depan hutan larangan adat itu diakui dalam hukum positif dan hukum negara.

”Posisi hutan ini sangat lemah. Pasalnya posisinya tidak termasuk dalam kawasan hutan, tetapi kawasan pemanfaatan langsung yaitu untuk kawasan perkebunan. Apalagi ada bagian hutan itu yang lokasinya berbatasan langsung dengan jalan lintas Simpang Tibun – Kebun Durian, yaitu jalan yang menghubungkan Kecamatan Kampar dengan Kampar Kiri. Tepatnya Rimbo Potai seluas 70 hektar. Kawasan itu sangat rentan menjadi tempat kegiatan illegal logging karena kemudahan akses untuk membawa kayunya,” ungkap Masriadi.

Untuk itulah Yayasan Pelopor berinisiatif mendokumentasikan aturan adat itu dalam bentuk dokumen tertulis mulai tahun 2001dan selesai tahun 2002. Lalu sejak tahun 2004, yayasan itu mengupayakan agar hutan larangan adat itu diberi status hukum oleh negara dan dicantumkan dalam tata ruang Kabupaten Kampar. Namun upaya itu sampai saat ini belum teralisasi. Satu-satunya yang berhasil adalah diterbitkannya Undang-undang Adat Kenegerian Rumbio Nomor 1 Tahun 2007 tentang Rimba Larangan Adat yang dikeluarkan oleh Lembaga Adat Kenegerian Rumbio.

Selain mempertahankan keberadaan hutan larangan adat itu secara tertulis, Yayasan Pelopor juga merintis pembuatan tapal batas di sekeliling hutan larangan adat. Terutama yang berbatasan langsung dengan kebun masyarakat. Seiring dengan itu yayasan itu juga merintis pelaksanaan patroli rutin untuk pengamanan kawasan tersebut.

Upaya-upaya masyarakat Kenegerian Rumbio baik yang dilakukan para ninik mamak dan juga anak kemenakan di negeri itu telah menjadi contoh nyata, bahwa kearifan lokal bisa mempertahankan keberadaan hutan. Sekalipun di negeri gundul bernama Riau yang sangat dikenal eksploitasi besar-besaran hutannya. ***

Nelayan Sampah



Jika dulu para nelayan datang ke sungai untuk menjaring ikan, kini para nelayan datang ke sungai untuk menjaring sampah.


Naik sampan dan membawa tangguk ke Sungai Siak bukanlah pekerjaan baru bagi Amran (42). Sudah belasan tahun aktivitas itu dilakukan pria yang tinggal di bantaran Sungai Siak ini, tepatnya di Jalan Nelayan, Kecamatan Meranti Pandak, Kota Pekanbaru. Hanya saja kini Amran tidak lagi ke sungai untuk menjaring ikan, tetapi menjaring sampah.


Amran memang sudah beralih profesi. Jika dulu dia adalah seorang nelayan ikan, namun sekarang dia adalah nelayan sampah. Sejak itu pulalah kini tidak akan ditemukan lagi ikan hidup yang menggelepar-gelepar di bagian depan sampan Amran. Tempat ikan-ikan yang meloncat-loncat ingin kembali ke sungai itu posisinya digantikan makhluk kaku bernama sampah.

“Kalau menjaring ikan, sekarang belum tentu dapat uang. Rezekinya seperti rezeki harimau. Kadang dapat, kadang tak dapat sama sekali. Tetapi kalau menjaring sampah, pasti dapat uang,” ungkap Amran terkekeh saat ditanya lebih enak mana jadi nelayan ikan atau nelayan sampah.

Amran menjelaskan kalau dia menjaring sampah, dia pasti dapat bayaran dari Dinas Pemukiman dan Prasarana Wilayah (Kimpraswil) Kota Pekanbaru. Jumlahnya sih memang tidak banyak, hanya Rp30 ribu. Namun bagi buruh harian lepas Operasional dan Pemeliharaan (OP) Pengembangan Sumber Daya Air (PSDA) Kimpraswil Kota Pekanbaru ini, jumlah itu lebih bisa menggaransi kehidupan istri dan dua anaknya.

Profesi baru menjadi nelayan sampah, tak hanya dilakoni Amran. Tetapi juga dua orang tetangganya, yakni M Yani (34) dan Ali Hamzah (26). Karena tinggal dalam satu RT, mereka bertiga ini selalu kompak pergi bekerja sebagai nelayan sampah di bawah Jembatan Leighton. Aktivitasnya dimulai di pagi hari, sekitar pukul tujuh atau delapan pagi dan berakhir sekitar pukul tiga atau empat sore.

Meski menjadi nelayan sampah hasilnya lebih pasti, namun menurut mereka sebenarnya tidak enak. Berurusan dengan sampah menurut mereka, bisa mengakibatkan perut mulas dan mau muntah. Apalagi ketika awal-awal harus bekerja, selera makan mereka bisa hilang dan tidak bisa makan seharian.

”Gimana mau makan, kalau ketemu sampah taik yang dibungkus plastik. Kami menyebutnya WC terbang. Kadang-kadang sering juga ketemu bangkai kucing dan anjing. Pokoknya macam-macamlah,” ungkap M Yani sambil tertawa kecil ingat kalau dulu dia baru bisa normal makan setelah tiga hari bekerja berturut-turut.

Namun, menurut Ali Hamzah, sampah taik dan bangkai tidak membuatnya terlalu jengkel. Dia lebih sebal lagi kalau harus ketemu sampah pembalut wanita yang terapung-rapung di atas air sungai. ”Sebentar lagi pasti banyak tuh,” ungkapnya dengan nada suara sedikit naik sembari menunjuk ke arah datangnya sampah dari Sungai Senapelan.

Di tengah-tengah perbincangan itu tiba-tiba dua buah kantong asoi, tampak datang dari arah hulu sungai Siak. Salah satu dari mereka pun dengan gesit menaiki sampannya dan mendekati sampah itu dan mengambilnya. Ternyata isinya adalah aneka bunga tujuh rupa. ”Wah, pasti ada yang buang sial nih,” celetuk mereka sembari tertawa.

Tidak lama setelah itu, sebuah bungkus kemasan makanan anak-anak seakan-akan datang dari langit. Setelah dilihat ke atas ternyata ada orang yang membuang sampah dari atas Jembatan Leighton. Kembali lagi salah satu mereka mengejar sampah itu. Namun seperti apapun mereka giat membersihkan sampah-sampah itu, sampah itu sepertinya tidak berhenti datang. Riau Pos sendiri pun sempat menyaksikan bagaimana dalam hitungan beberapa menit saja kawasan yang tadi mereka bersihkan kembali dipenuhi sampah.

Itulah sebabnya terkadang banyak yang menduga mereka tidak bekerja. Soalnya kalau mereka istirahat sebentar saja dan tim pengawas kota datang, mereka tidak bisa mengelak kalau di tempat mereka masih banyak sampah. Meskipun kenyataannya kecepatan sampah yang mereka punguti hampir sama dengan kecepatan sampah yang datang. Jika tidak percaya bahwa jumlah sampah ditempat itu begitu banyak, menurut mereka bisa di check saat jadwal pengangkutan sampah. Sampahnya setiap hari bisa mencapai satu truk.

Amran dan Yani juga menceritakan kalau sampah yang mereka dapati di badan sungai tidak saja berasal dari mereka yang tidak kelihatan membuang sampahnya. Tetapi juga berasal dari mereka yang membuang sampah di depan hidung mereka sendiri. ”Malah saya sempat ribut dengan para penjual jagung bakar di tepian Sungai Siak ini. Mereka langsung saja membuang sampah ke dalam sungai. Makanya keranjang sampah itu saya taruh disana. Agar mereka tidak lagi membuang sampah ke dalam sungai,” tunjuk Amran ke arah tong sampah rotan yang terletak di bantaran bagian bawah Sungai Siak.

Tentang rendahnya kesadaran masyarakat membuang sampah itu juga dikemukakan M Yani. Sambil mengulum senyum dia menunjuk ke arah papan pengumuman dilarang membuang sampah yang ada di pinggiran sungai itu. ”Di papan pengumuman itu, malah paling banyak sampah dibuang,” ujarnya terkekeh.
***

Membersihkan sungai dari sampah memang tengah giat dilakukan Dinas Kimpraswil Kota Pekanbaru, khususnya seksi OP PSDA. Pasalnya kebersihan sungai menjadi salah satu indikator kebersihan Kota Pekanbaru yang telah tiga tahun berturut-turut ini jadi kota besar terbersih se Indonesia. Untuk mempertahankan prestasi itu, Kimpraswil Kota bersama dinas terkait lainnya yang ditugaskan membersihkan Kota Pekanbaru bergiat menjaga kebersihan kota sesuai tupoksi (tugas pokok dan fungsi) mereka masing-masing.

Di OP PSDA sendiri, inisiatif yang dilakukan adalah membentuk para mantan nelayan ikan jadi nelayan sampah. ”Kita sengaja memilih mereka, para penduduk di sekitar sini yang memiliki sampan untuk membersihkan sungai. Soalnya mereka yang paling mengerti areal mereka. Apalagi Sungai Siak kan terkenal cukup angker. Kalau mereka yang terbiasa naik sampan disini, pasti lebih aman,” ungkap Syamsir Alam, Kasi OP PSDA Kimpraswil Kota Pekanbaru yang sejak tahun 2005 lalu memperkenalkan profesi baru bagi masyarakat tepian Sungai Siak dari nelayan ikan ke nelayan sampah.

Sebenarnya tidak banyak nelayan sampah yang dibentuk Syamsir Alam. Hanya tiga orang untuk di bawah Jembatan Leighton dan lima orang di sekitar Pelabuhan Sungai Duku. Pasalnya hanya lokasi itu yang memungkinkan dibersihkan oleh para nelayan sampah dan juga karena alasan hanya itulah yang menjadi kewenangan Kimpraswil Kota Pekanbaru.

Sementara itu untuk bagian sungai lain yang dangkal atau tidak memungkinkan bersampan, mereka membentuk tim renang sampah. Tugas para tim renang ini adalah memunguti sampah di dalam sungai dengan baju pelampung. Tim renang ini bisa ditemui di muara Sungai Sago, muara Sungai Limau dan Sungai Siak dekat Pelabuhan Pelita Pantai

”Kalau di Pelita Pantai, kita tidak bisa menggunakan para nelayan sampah ini. Karena sampah utama disana adalah eceng gondok. Karena air Sungai Siak itu airnya berputar maka eceng gondok itu biasanya mengumpul. Seperti membentuk pulau dan orang bisa berdiri di atasnya. Kalau pakai sampan maka tidak bisa diangkat. Jadi tenaga OP harus berenang. Kadang-kadang tiga orang bergabung mendorong eceng gondok itu ke tepian sungai. Barulah diangkat ke daratan,” ungkap Syamsir.

Untuk membersihkan sungai dan saluran primer di Kota Pekanbaru, Syamsir Alam dibantu oleh 150 orang petugas OP. Petugas itulah yang setiap hari bekerja membersihkan sungai-sungai yang membelah Kota Pekanbaru.

Meskipun mereka telah bekerja rutin, membersihkan sungai-sungai itu, menurut Syamsir tidak akan pernah bisa membersihkan sungai-sungai yang ada. ”Misalnya sampah di Sungai Siak ini. Kalau di daerah hulunya di Tapung Kampar itu tidak diantisipasi sampah eceng gondoknya, maka pasti di Pekanbaru selalu ada sampah. Kami juga tidak bisa bekerja sendiri, kalau Dinas Kimpraswil Provinsi Riau yang bertanggungjawab di wilayah sungai provinsi tidak melakukan hal yang sama,” ujarnya.

Dia juga menyinggung kesuksesan pekerjaan itu juga memerlukan dukungan masyarakat. Beberapa waktu lalu, menurutnya, dia telah menyebar selebaran agar masyarakat tidak membuang sampah ke sungai. Sejak itulah jumlah sampah yang dibuang langsung ke sungai sudah mulai berkurang hingga 50 persen. Ke depan dia berharap partisipasi masyarakat untuk menjaga lingkungan kian besar.***

Kamis, 17 Juli 2008

Ayo Terus Berprestasi!


Jangan berhenti berprestasi dan mengupgrade kemampuan diri

Pemanasan Global Senyata Lelehan Coklat, Sedekat Flu Burung

Disuatu siang yang panas di dalam mobil. “Eh, aku punya coklat. Itu ada di laci,” ujarku kepada Wati, rekanku sesama wartawan yang satu mobil dengan ku. Watipun membuka laci dan mengambil batangan coklat itu. ”Ah enggak, coklatnya sudah meleleh. Lumer. Aku tak mau,” ujarnya sambil memperlihatkan cairan coklat yang merembes sampai keluar bungkusnya dan melemparkan kembali coklat cair itu kedalam laci mobil. ”Astaga Wat, jangan lempar lagi ke dalam laci?,” ujarku

Peristiwa sederhana itu menjadi contoh nyata tentang peristiwa pemanasan global yang mencairkan es di kutub utara. Susanto Kurniawan, aktivis lingkungan yang kini menjadi koordinator Jikalahari, menyebutkan analognya coklat yang mencair itu sama dengan es yang mencair. Kaca mobil sama dengan gas rumah kaca di atmosfir. Ruangan di dalam mobil sama dengan kehidupan di atas permukaan bumi.
“Peristiwanya begini. Sinar matahari masuk ke dalam mobil lewat kaca jendela. Sinar matahari yang mengantar panas itu hanya bisa masuk ke dalam mobil tetapi tidak bisa keluar. Akibatnya panas terperangkap dan meningkatkan suhu di dalam mobil. Itu sebabnya kita selalu merasakan panas di dalam mobil yang terpakir di tempat panas,” ujarnya.


Peristiwa itu, lanjutnya, sama halnya sinar matahari yang masuk ke bumi. Normalnya sinar matahari yang masuk ke bumi sebagian dipantulkan lagi keluar. Sayangnya karena gas rumah kaca yang ada diatmosfir kadarnya sudah berlebihan, sekitar 430 ppm (IPCC, 2007), maka sinar yang dipantulkan tadi tidak bisa keluar. Akhirnya panas terperangkap di atmosfir bumi dan memanaskan suhu secara global. Akibatnya es pun mencair di kutub termasuk di Gunung Jaya Wijaya.

Penjelasan sederhana tentang pemanasan global, menurut Garin Nugroho, sutradara film yang kini gencar mengkampanyekan pemanasan global melalui media televisi dan poster, seringkali luput dari perhatian mereka yang berbicara tentang pemanasan global. Akibatnya peristiwa pemanasan global dianggap peristiwa yang tidak bersentuhan langsung dengan masyarakat.

. ”Walau sering kali kita mendengar tentang pemanasan global dan efek rumah kaca, tetapi banyak juga yang tidak mengerti makna sebenarnya. Banyak yang mengartikan pemasan global itu terjadi, karena sekarang rumah banyak pakai kaca. Untuk itu persoalan pemanasan global ini harus lebih disosialisasikan lagi termasuk di dunia televisi yang kini menjadi media yang paling banyak diminati,” ungkap Garin
Menurutnya selama ini persoalan pemanasan global hanya sering diceritakan tentang mencairan es di kutub utara. Padahal untuk masyarakat Indonesia itu tidak relevan. ”Perlu dicari contoh-contoh nyata yang lebih dekat dan dikenal oleh masyarakat,” tambahnya lagi.

Peristiwa banjir, angin puting beliung, dan kekeringan menjadi contoh nyata dari peristiwa pemanasan global di Indonesia. Contoh nyata lainnya yang juga kini diselidiki sangat ketat adalah peningkatan jumlah penyakit flu burung. Al Gore, mantan Wakil Presiden Amerika dan juga penerima Nobel Perdamaian tahun 2007, dalam film dokumenternya ”An Inconvenient Truth” menyebutkan flu burung adalah penyakit tropis yang perkembangannya dipicu oleh pemanasan global.

Pernyataan Al Gore diperkuat oleh Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan BMG Prof Mezak A Ratag dan peneliti dari Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Institut Pertanian Bogor (IPB) Agik Suprayogi kepada media. Mereka berdua, menyatakan pemanasan global mengakibatkan meningkatnya kasus flu burung. Itu terjadi karena peningkatan suhu udara mendorong peningkatan penguapan. Akibatnya kondisi udara lebih lembab dan virus pemicu penyakit flu burung sangat menyukai kondisi lembab dan dingin.
Fakta-fakta itu membuat peristiwa pemanasan global makin dekat dengan kehidupan manusia. Bahkan dr Chen Ik cen, seorang dokter kecantikan yang mendalami skin care, mengkhawatirkan kecantikan kulit wanita pun terancam akibat peningkatan suhu bumi.

Perang Melawan Pemanasan Global
”Siapkah kita kehilangan?. Ini adalah isu moral. Ini lebih hebat dari perang terhadap teroris! Dampaknya dari perbuatan kita saat ini dan pendahulu kita akan terjadi saat anak-anak kita seusia saya saat ini” ujar Al Gore dalam filmnya.
Pernyataan Al Gore dan sejumlah fakta tentang pemanasan global telah mendorong banyak pihak untuk menyatakan perang perang terhadap pemanasan global. Nila F Moloek, Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Indonesia, salah satunya. Dia menyatakan kaum perempuan pun harus diberi tahu dengan ancaman ini. Menurutnya, perempuan memiliki kontribusi besar dalam keluarga untuk mengurangi emisi melalui kegiatan hemat energi. Baik dari pemakaian listrik, penggunaan bahan bakar untuk transportasi, maupun kegiatan lainnya yang memberi kontribusi dalam melepaskan gas rumah kaca, khususnya CO2.

“Kita bisa memulainya dari rumah. Bangun rumah di lahan perumahan. Jangan merusak hutan. Jangan mengubah lahan pertanian menjadi perumahan, pabrik maupun mal. Tingkatkan kualitas hidup. Kendalikan pertumbuhan penduduk dengan keluarga berencana. Kurangi hidup boros. Budayakan prinsip 3R, reduce, reuse, dan recycle. Efisienkan penggunaan transportasi. Kurangi CO2 dan selamatkan udara dengan menanam pohon. Hemat pemakaian energi dan banyak lagi yang bisa kita lakukan untuk memerangi ini,” ujar Nila.

Tak hanya itu, dengan semakin gencarnya topik pemanasan global berbagai kegiatan pengurangan pemanasan globalpun dilakukan. Tidak saja datang dari pemerintah tetapi juga dari sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Dari pemerintah ada gerakan Indonesia menanam dan sebentar lagi Gerakan Penanaman Pohon Serentak yang dilaksanakan di seluruh kabupaten/kota. Sejumlah LSM di Riau kini juga tengah memperjuangkan penyelamatan hutan gambut.

”Riau memiliki hutan gambut terluas di Sumatera. Luasnya mencapai 4,044 juta ha atau 56,1 % dari luas total lahan gambut di Sumatera. Hutan gambut memiliki kontribusi dua kali lipat dalam melepaskan karbon tetapi juga dua kali lipat menyimpan karbon. Kalau lahan gambut diselamatkan dari deforestasi, kebakaran, dan kekeringan maka kawasan itu akan mampu mengurangi emisi karbon yang menjadi penyebab utama pemanasan global,” ujarnya Susanto Kurniawan.

Namun upaya penyelamatan itu, menurutnya harus pula mendapat instensif dari negara-negara maju. “Harus ada kompensasi dari hutan gambut yang kita jaga. Itulah yang kini kita perjuangkan,” ungkap Susanto yang kini bersama rekan-rekannya di Jikalahari tengah mendorong penyelamatan Hutan Rawa Gambut Semenanjung Kampar (***)