Jurnalistik Berkelanjutan

Jurnalistik Berkelanjutan
Objektifitas Berita Lingkungan: Jurnalistik Berkelanjutan adalah buku pertamaku. Buku ini mengupas tentang pengalamanku tentang dampak pemberitaan lingkungan yang tidak akurat. Berita yang demikian tidak saja mampu mengguncang kehidupan pribadi seseorang tetapi juga tidak membantu lingkungan. Jika Anda ingin membacanya, Anda bisa menemukan sejumlah cuplikannya di blog ini

Kamis, 25 Juni 2009

Adakah Kehidupan Lebih Baik di Tempat Sampah Berakhir?

Laporan Andi Noviriyanti

Mata Tiur Boru Tambunan (38) dan puluhan teman-temannya tampak berbinar-binar tiap kali truk-truk pembawa sumber mata pencarian mereka datang. Dengan berlarian mereka saling berpacu mengejar ke arah mana truk itu akan menumpahkan isinya. Lalu dengan sigap mereka akan memunguti berbagai benda yang dijatuhkan dan dilemparkan dari dalam truk itu. Semakin banyak yang bisa mereka rebut semakin terpancarlah kebahagian diraut wajah mereka.
Berbeda dengan mata Tiur dan teman-temannya, mata Riau Pos justru nanar (menyiratkan kesedihan) melihat kejadian itu. Mereka yang berpacu bukannya tengah memperebutkan bahan makanan seperti yang biasa terlihat saat bantuan makanan gratis diberikan. Tetapi mereka sedang memperebutkan onggokan-onggokan sampah yang tidak jelas apa jenisnya. Bisa jadi pampers yang telah berlumur berak bayi, bangkai binatang, kotoran dan jeroan hewan, kertas bekas, sisa makanan, buah-buahan busuk dan entah apalagi.

Terpenting bagi mereka sampah-sampah yang terbungkus dalam kantong-kantong plastik itu direbut dulu. Masalah isi belakangan akan mereka pilah. Untuk yang masih berharga didaur ulang seperti karton bekas, kertas bekas, gelas plastik bekas, botol bekas, kara plastik, botol kaca, besi-besi tua akan mereka sisihkan. Terkadang mereka juga mengambil sampah kulit pisang dan sampah sayuran untuk dijual kepada pemilik ternak.
Begitulah potret kehidupan yang bisa disaksikan di sebuah tempat yang menjadi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah dari seluruh penjuru Kota Pekanbaru. Terletak sekitar 18,5 kilometer dari Kota Pekanbaru arah jalan lintas Pekanbaru- Minas, tepatnya Kelurahan Muara Fajar, Kecamatan Rumbai, Kota Pekanbaru.
Sekitar 174 pemulung menggantungkan kehidupannya di TPA bersistem sanitary landfill (sampah diratakan lalu ditutup dengan tanah uruk) itu. Untuk mengais-ngais sampah yang bau itu, para pemulung yang rata-rata perempuan hanya mengandalkan tangan-tangan mereka yang terbungkus sarung tangan. Sengatan matahari yang tajam yang menikam ubun-ubun kepala mereka, hanya diatasi dengan menutup kepala mereka dengan kain atau topi. Kaki mereka terbungkus sepatu kets buruk atau sepatu bot yang umum dipakai petani. Wajah para perempuan itupun hanya dilindungi bedak beras yang dioleskan dipipi mereka.
Setiap hari mereka bekerja dari sekitar pukul delapan pagi hingga pukul delapan malam. Malah terkadang jika ingin mengais rezeki yang lebih banyak dari angka Rp20 ribu, mereka bisa datang lebih pagi dan pulang lebih malam. Karena sampah-sampah itu bisa datang setiap saat. ”Sampah itu bisa masuk pagi, siang, sore, atau malam. Tempat ini menampung sampah selama 24 jam,” ungkap Sihmanto, pria yang tiga tahun terakhir hingga awal Oktober lalu menjadi Kasi Pemanfaatan Sampah dan Kotoran Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Pekanbaru yang mengepalai TPA Muara Fajar.
Malah menurut Sihmanto, para pemulung terkadang ada yang berani menaiki truk bermuatan sampah yang masih berjalan. ”Meski telah berkali-kali dilarang karena membahayakan mereka dan membuat sampah berserakan sebelum masuk ke tempatnya, masih ada juga yang membandel,” ujar pria berperawakan kurus itu.
***

Kehidupan yang ada di TPA itu, seperti langit dan bumi bila dihadapkan dengan pusat Kota Pekanbaru, sebuah kota yang telah tiga tahun berturut-turut ini menjadi kota terbersih se Indonesia. Pasalnya sampah yang berada di pusat kota selalu saja dipindahkan dengan sigap oleh para tenaga kebersihan DKP, Dinas Pasar, dan kecamatan ke TPA. Malah untuk mengangkut sampah itu jadwal petugas kebersihan hingga tiga kali sehari. Di mulai periode pertama dari pukul enam pagi hingga pukul satu siang. Periode kedua dari pukul dua siang hingga pukul tujuh malam. Periode terakhir pukul delapan malam hingga pukul dua dini hari.
Untuk memindahkan sampah-sampah itu dibutuhkan biaya yang tidak sedikit. Menurut Mursidi Kasubdin Operasional DKP. Untuk dinasnya saja, dibutuhkan biaya operasional untuk pengangkutan sampah dan pengelolaannya di TPA sebesar Rp5,8 miliar pertahun. Itu belum termasuk biaya pengangkutan yang dikeluarkan dinas pasar dan kecamatan yang bertanggungjawab terhadap sampah pasar dan tempat pemukiman warga.
Cekatannya pihak tenaga kebersihan itulah yang menjadi salah satu faktor penting dari prestasi penghargaan Adipura yang diterima Kota Pekanbaru sejak tahun 2005 lalu hingga sekarang. Namun, haruskah Kota Pekanbaru terlena akan prestasi yang telah diraihnya?
Sebuah fakta mencengangkan dipaparkan oleh rekan seprofesi Riau Pos, bernama Budiman. Pria yang bekerja di Suara Pembaharuan ini, dalam suatu pertemuan, menghadiahkan sebuah buku yang ditulis bersama Walikota Cimahi HM Itoc Tochija kepada Riau Pos. Buku berjudul Tragedi Leuwigajah itu memperlihatkan bahwa pengelolaan sampah di kota-kota seluruh Indonesia termasuk di Pekanbaru suatu saat akan menimbulkan petaka di tempat sampah berakhir, sama halnya yang terjadi di TPA Leuwigajah.
TPA yang menjadi tempat penampungan sampah akhir dari Kota Bandung dan Cimahi itu pada tahun 2005 meledak dan longsor. Akibatnya 143 orang tewas dan 139 rumah terkubur dan hancur ditelan sampah. Kejadian ini tercatat sebagai bencana terbersar kedua di dunia yang pernah terjadi di TPA. Terbesar pertama terjadi di Payatas, Quezon City, Filipina. Longsoran sampah mengubur lebih dari 200 orang dan belum termasuk ratusan lainnya yang hilang dalam bencana tersebut.
Meledak dan longsornya TPA Leuwigajah bukan karena tempat itu sengaja hendak diledakan. Tetapi sebagai akibat tumpukan sampah yang terus menggunung itu menghasilkan gas metan (CH4) hasil penguraian sampah organik di TPA itu. Akibatnya lama-lama karena material sampah dan gas yang dihasilkannya mencari keseimbangan alam, gas metanpun meledak. Ledakan itu mengubah struktur sampah yang tadinya kokoh menjadi kosong di beberapa bagian dan akhirnya mengakibatkan longsor. Lalu sampah yang didominasi plastik itupun mengubur manusia yang berada disekitarnya.
TPA Leuwigajah pun ditutup untuk sementara waktu. Sampah dari Kota Bandung dan Cimahi pun tidak bisa masuk dan akhirnya menumpuk di Tempat Pembuangan Sementara (TPS). Tumpukan sampah itu mengakibatkan Bandung yang dijuluki kota kembang tak lagi wangi. Karena bau busuk sampah memenuhi seluruh penjuru kota.
Lalu tidak lama berselang, di saat Kota Pekanbaru menerima penghargaan kota terbersih, Bandung menerima penghargaan kota terkotor se Indonesia dari Kementerian Lingkungan Hidup. Meski tidak dapat dipastikan kebenarannya, namun dari pengamatan kepada kedua kota itu bisa jadi disebabkan karena Pekanbaru masih memiliki areal yang cukup luas untuk menyingkirkan sampah ke luar kota sana.
Namun soal pengelolaan sampah kedua kota itu tidak ada bedanya. Sama-sama masih mengandalkan sistem lanfill pada TPA-nya. Sama-sama memiliki pemulung diatas kubangan sampahnya. Sama-sama mengelolah sampah tanpa upaya sangat berarti untuk mengurangi (reduce), menggunakan kembali (reuse), mendaur ulang (recycling), pemanfaatan kembali (recovery) sampah-sampah yang ada.
Perbedaan mendasar hanya terletak pada kepadatan penduduk dan luas areal yang belum berpenghuni. Bandung memiliki penduduk lebih padat sehingga lahannya lebih sempit. Bila tidak ada upaya pengelolaan sampah yang lebih baik, bisa jadi Kota Pekanbaru suatu saat nanti tidak akan jadi kota terbersih lagi dan tragedi Luewigajah bisa terjadi di Muara Fajar.
***
Adakah pengelolaan sampah yang lebih baik dan lebih bermanfaat? Ada jawab satu-satunya penerima penghargaan Kalpataru Tahun 2007 Erni Suarti. Erni berhasil membuat semua sampah yang dihasilkan dari dapurnya menjadi benda bermanfaat. Ada yang dijadikannya pupuk organik, pakan ternak dan adapula yang menjadi cairan penyubur tanaman. Bau sampah dapur di rumahnya juga menjadi wangi. Untuk mengubah itu perempuan yang bekerja sebagai tenaga penyuluh pertanian ini menggunakan teknologi Effective Microorganism 4 (EM 4).
Tentang adanya pengelolaan sampah yang lebih baik juga diungkapkan oleh Budiman dan HM Itoc Tochija dalam bukunya. Hanya dibutuhkan kemauan dan kebersamaan untuk membuat sampah tidak lagi sekedar jadi limbah. Untuk sampah kertas bisa didaur ulang menjadi kerta bermutu tinggi dan dijual kembali. Caranya hanya dengan menghancurkan kertas secara manual atau dengan blender. Setelah airnya diperas airnya, bubur kertas itu tinggal dijemur sinar matahari. Dengan tambahan sedikit lem dan pewarna dalam sekejap kertas itu akan menjadi jenis kertas berstekstur unik dan alami.
Untuk sampah organik, selalin dibuat kompos juga bisa dijadikan energi untuk menghasilkan listrik seperti yang dilakukan Negara Cina. Listrik tersebut dihasilkan dari perpuataran turbin yang didorong oleh gas hasil penguraian sampah organik.
Sampah plastik, kaleng, besi, alumunium pun tidak sulit dimanfaatkan kembali. Caranya dengan mendaur ulang sampah tersebut. Baik dengan memberikannya kepada pemulung atau menjualnya kepada penampung sampah. Penampung sampah itu akan menjualnya ke pabrik daur ulang untuk membuat benda-benda baru yang bisa digunakan kembali.
Pekerjaan mengelolah sampah yang dimulai dari sumber sampah itu berasal akan mengurangi banyak sampah yang dikumpulkan di TPA. Sampah-sampah berharga yang diberikan kepada para pemulung juga akan memberikan kehidupan yang lebih baik bagi para pemulung. Sesuai dengan tujuan Millennium Development Goals (MGDs) untuk pengentasan kemiskinan.
Para pemulung juga bisa bekerja lebih baik dengan cara menjadi tenaga komposting dan pegawai pabrik daur ulang yang berada di areal TPA. Mengingat selama ini sampah-sampah yang masih berharga di daur ulang di luar Riau yaitu Medan dan Pulau Jawa. Semoga ada kehidupan yang lebih baik di tempat sampah-sampah itu berakhir! (Terbit di Harian Riau Pos, 28 Oktober 2007)

0 komentar: