This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Jurnalistik Berkelanjutan

Jurnalistik Berkelanjutan
Objektifitas Berita Lingkungan: Jurnalistik Berkelanjutan adalah buku pertamaku. Buku ini mengupas tentang pengalamanku tentang dampak pemberitaan lingkungan yang tidak akurat. Berita yang demikian tidak saja mampu mengguncang kehidupan pribadi seseorang tetapi juga tidak membantu lingkungan. Jika Anda ingin membacanya, Anda bisa menemukan sejumlah cuplikannya di blog ini

Senin, 18 Oktober 2010

Melihat Kursi Ban Bekas Generasi Kelima ”Paku Hilang dan Kini Bermotif Melayu”


Butuh empat tahun bagi Suherman untuk bisa mewujudkan mimpinya membuat kursi dari ban bekas yang anti patah, anti karat, anti lapuk, bahkan kini bermotif Melayu.

Laporan Marrio Kisaz, Pekanbaru marriokisaz@riaupos.com

Suherman tak henti-hentinya sumringah, memperlihatkan kursi ban bekas generasi kelimanya, Jumat (15/10) sore, di tempat workshop usahanya sekaligus kediamannya Jalan Rowo Bening, Sidomulyo Barat, Kecamatan Tampan. Pria berkumis ini menyebutkan kursi karet atau yang diberinya nama dagang siret alias kursi karet itu, sudah sempurna.


“Butuh waktu empat tahun bagi saya untuk membuat kursi ini jadi sempurna. Lihat pakunya sudah tak kelihatan lagi. Bahkan sekarang saya sudah bisa membuatnya bermotif Melayu. Ini bisa menjadi kursi kebanggaan Riau sebagai kursi Riau. Dengan ini saya sudah siap go public,” ujarnya terkekeh bahagia dan menyatakan dalam waktu dekat mulai memproduksi besar-besaran produk kursi tersebut yang selama ini hanya berdasarkan orderan.

Sembari bercerita, dia mengajak Riau Pos berkeliling melihat kursinya yang sangat identik dengan bentuk bulat-bulat tersebut. Dia memperlihatkan beberapa generasi siret sebelum generasi kelima tersebut dan tumpukan ban bekas yang sebagian sudah diolah menjadi kerangka kursi.

‘’Saya memulainya dari nol. Pada awalnya produk ini sangat sederhana dengan masih terlihat paku dan ukiran yang yang kasar. Namun saya terus belajar secara autodidak sehingga produk generasi kelima inipun tercipta. Kursi ini sudah sesuai mottonya. Anti patah, anti karat, dan anti lapuk,’’ paparnya sembari menceritakan sebelumnya kursi siret generasi keempat terkendala dengan posisi pakunya yang masih terlihat di bagian luar kursi dan rentan berkarat.

Pria penerima penghargaan Adikriya tingkat Provinsi Riau tahun 2007 itu memang pantas berbangga hati. Pasalnya Riau Pos pun sempat dibuat pangling saat pertama kali melihat kursi tersebut di kantor Dinas Koperasi dan UMKM Kota Pekanbaru. Kursi yang terpajang sebagai kursi tamu tersebut tak kelihatan sama sekali tanda-tanda dari ban bekas. Bahkan layak disejajarkan dengan kursi mewah lainnya.

Apalagi, pria ini berhasil berinovasi dalam mengukir ban tersebut dengan motif Melayu. Salah satunya pucuk bersusun daun berjalin. Yang artinya seorang pemimpin yang bijaksana dengan didukung anggota yang baik dan patuh.

Penasaran akan produk ramah lingkungan itu, Riau Pos mencoba untuk menduduki kursi dari ban bekas itu. Kursi tersebut ternyata memiliki pondasi yang kokoh.

‘’Saya sengaja mendesain sedemikian rupa, agar kursi ini dapat diterima di pasaran,’’ ungkapnya sambil menceritakan produk kursi dari ban bekas sebenarnya bukan hal baru di Indonesia, namun baru dia yang berhasil membuat bentuk ban itu tidak kelihatan lagi.

Dalam mengembangkan usahanya, Suherman menggunakan bahan utama dari ban bekas yang tidak bisa digunakan lagi. Didukung bahan pendukung seperti paku, busa, kaca dan peralatan yang masih tergolong manual dan sangat sederhana.

Setiap bulannya dia bisa menyelesaikan tiga sampai empat set kursi lengkap dengan meja dan aksesorisnya. Semua karya tersebut dikerjakan dengan tanggannya sendiri. Keterbatasan itu terjadi karena minimnya pendanaan dan dia masih belajar menemukan formula yang tepat

‘’Saya mengumpulkan ban bekas dengan membeli Rp20-40 ribu untuk satu ban. Inilah yang saya kumpulkan secara bertahap dengan kondisi keuangan seadanya. Saya juga tidak memberikan patokan yang tinggi untuk hasil karya ini. Satu setnya saya menjual sekitar Rp2,4-3,5 juta. Sedangkan modal secara keseluruhan yang saya keluarkan dari Rp 2-2,9 juta. Tergantung permintaan pembeli,’’ ujar Pria yang berkulit agak gelap itu.

Selain bahagia siap untuk go public, terselip rasa kwatir dari penerima penghargaan tingkat Nasional dari Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah RI tahun 2009Pasalnya produk generasi keimanya itu bisa saja ditiru oleh orang lain dengan gampang. "Saya berharap hak patennya dilindungi," ujarnya.

Meminimalisir Perubahan Iklim
Pengamat Lingkungan Riau Drs T Ariful MSi menilai sudah saatnya persfektif pengembangan usaha ekonomi kerakyatan mengacu pada konsep ramah lingkungan. Dimana menurut Direktur Badan Kajian Rona Lingkungan Universitas Riau tersebut langkah pemanfaatan limbah dari ban bekas yang dilakukan Suherman dapat berimbas positif dalam meminimalisir perubahan iklim.

‘’Jika tidak diolah dengan proses daur ulang yang ramah lingkungan. Ban bekas yang dibakar dapat mempercepat proses perubahan iklim. Dimana hasil pembakarannya dapat meningkatkan kadar karbondioksida di udara. Selain itu jika material ban dilengkapi dengan bahan belerang, maka dapat meningkatkan kadar bahan kimis SOS yang sangat berbahaya bagi makhluk hidup dan kelestarian lingkungan," paparnya.

Sedangkan untuk penanganan dengan sistem penguburan juga tidak selamanya efektif. Karena menurutnya, selain memerlukan waktu yang panjang mencapai 20 tahun, kandungan sintetis dalam material ban dapat merusak struktur tanah. Sehingga dapat berimbas ke mikroba dan organisme di lingkungan.

Perlu Suport Pemerintah
Perjalan usaha pengolahan bahan bekas milik Suherman ternyata tidak semulus seperti yang diharapkan. Salah satu kendala yang ditemukan adalah suport dari pemerintah dan pihak swasta dalam hal pemasaran. Sehingga produk yang idealnya menjadi salah satu ikon produk UMKM yang ramah lingkungan masih belum dapat terpasarkan secara maksimal.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Provinsi Riau Raja Indra Bangsawan mengaku pihaknya masih terkendala dalam upaya mempromosikan produk UMKM. Kendati demikian pihaknya tetap berupaya secara optimal melakukan pembinaan dan pelatihan agar produk yang dihasilkan dapat lebih berkualitas sehingga dapat bersaing dipasaran.

Kondisi yang tidak jauh berbeda diungkapkan Kepala Bidang UMKM Dinas Koperasi Kota Pekanbaru Firmansyah. Secara detail dia mengaku telah berkali-kali melakukan kegiatan promosi lewat beberapa event pameran ditingkat lokal bahkan nasional. Hanya saja kendala yang ditemukan menurutnya berada pada kesiapan pihak pengelola UMKM yang belum siap dalam proses permodalan dan pemasaran.

‘’Pengembangan sektor UMKM sudah cukup baik. Hanya masih sering terkendala untuk sektor permodalan. untuk itu kita telah mencoba melibatkan pihak perbankan dan beberapa pihak swasta dalam mengembangkan sektor UMKM yang termasuk skala prioritas kita. Namun ini tidak bisa dilakukan secara instan. Melainkan secara bertahap,’’ imbuhnya.

Kondisi tersebut menimbulkan keprihatinan dari kacamata ekonom Prof Zulkarnaini MSi yang telah bertahun-tahun berkecimpung dan mendalami perekonomian khususnya di pengembangan ekonomi kerakyatan. Dia menilai saat ini belum adanya figur yang mau untuk memberikan perhatian ekstra dalam pengembangan UMKM di daerah. Padahal menurutnya salah satu indikasi keberhasilan perekonomian di suatu daerah dapat dilihat dari indikasi keberhasilan dalam pengembangan ekonomi kerakyatan, seperti sektor UMKM.(ndi)


”Dalang Collection, Jangan Sampai Mati Suri!”


Masyarakat masih berprinsip kalau produk daur ulang hanya sampah. Jadi harganya harus murah, malah kalau bisa gratis.


Laporan Andi Noviriyanti, Pekanbaru andinoviriyanti@riaupos.com

Di sebuah penurunan curam di Jalan Gajah ujung, Kelurahan Rejosari, Kecamatan Tenayan Raya, terdapat warung sederhana berukuran 4 x 6 meter. Dindingnya terbuat dari kayu dan sebagian lagi kawat. Warung itu bukanlah warung biasa, ia warung khusus 3R (reuse, reduce, recycle) yang khusus menjual produk daur ulang dari sampah plastik.



Di tempat itu, para pengunjung bisa memilih aneka bentuk kerajinan daur ulang yang telah disulap cantik. Mulai dari tas anyaman, tas ke pasar, tas rangsel, sendal, map, tempat sepatu dan sebagainya. Harganya juga tidak terlalu mahal, kisaran Rp8 - 40 ribu.

Bahkan di tempat itu, pengunjung bisa melihat langsung proses pembuatan kerajinan daur ulang dengan merek dagang Dalang Collecion tersebut. Sebuah nama yang menurut empunya warung, Soffia Seffen, awal pekan lalu, berasal dari singkatan kata daur ulang. Di lahan seluas 35 x 25 m tersebut, pengunjung bisa melihat gudang tempat penyimpanan sampah plastik, tempat pencucian sampah, hingga bagaimana pengrajin daur ulang menjahit sampah-sampah tersebut hingga layak jual.

Sebenarnya menurut Soffia, usahanya yang beromset 10-15 juta perbulan itu, tidak berpusat di tempat usaha sekaligus kediamannya itu saja. Namun juga di rumah 15 orang penjahit, lima orang penganyam, lima keluarga pemulung dan lima keluarga pencuci sampah plastik tersebut.

“Jadi mereka tidak bekerja di sini saja. Mereka bekerja di rumah masing-masing. Nanti kalau hasil pekerjaan mereka sudah selesai, mereka antar ke sini,” ungkap perempuan berkulit putih yang tengah hamil lima bulan setengah ini.

Mengembangkan usaha daur ulang tersebut, sebenarnya tak masuk dalam hitung-hitungan bisnis. Tapi lebih karena dilatarbelakangi pengetahuannya sebagai pegawai di Pusat Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH) Regional Sumatera. Sarjana Hukum ini kerap prihatin terhadap ancaman sampah plastik yang jumlahnya semakin banyak. Padahal plastik merupakan sumber pencemaran tanah bahkan air. Produk yang membutuhkan waktu 500 tahun untuk teruai.

Kesadaran itulah yang mendorong, ibu dua anak ini, mengembangkan usaha tersebut dari nol. Mulai dari belajar membuat produk tersebut, meyakinkan para penjahit untuk bergabung bersamanya, hingga melakukan pemasaran yang lumayan sulit.
“Menjual produk daur ulang seperti ini susah sekali. Walaupun setiap pameran kami, banyak yang lihat dan terkagum-kagum. Tapi pas giliran beli, masyarakat ogah. Masyarakat masih berprinsip kalau produk ini sampah. Jadi harganya harus murah, malah kalau bisa gratis. Padahalkan ini juga pakai biaya produksi dan tenaga kerja,” ujarnya.

Untung saja, kantor tempatnya bekerja banyak menampung hasil produknya. Terutama untuk seminar kit dalam berbagai kegiatan pelatihan dan aneka kerajinan lainnya yang digunakan sebagai contoh jika ada pelatihan membuat produk daru ulang sampah plastik. Dari kantornya itulah kemudian jaringan pasar lainnya terbentuk seperti dari Badan Lingkungan Hidup (BLH) se Sumatera.

Selain itu dia juga mendapatkan pemasaran dari saudara-saudaranya. Misalnya dia menjadi produsen untuk tas rangsel plastik di TK Harapan Bunda yang menjadi tas wajib di TK tersebut yang kebetulan dimiliki oleh saudaranya. Selain itu juga menjadi produsen produk contoh untuk pelatihan produk daur ulang di sekolah Adiwiyata di kota Pekanbaru.

Meski begitu, omset itu sering tidak memadai juga untuk memenuhi keperluannya membayar upah pekerjanya. Apalagi sebagai produk contoh ataupun untuk keperluan seminar tersebut tidak terus menerus. Hanya musim proyek saja. Jadi kadang-kadang dia juga harus mensubsidi usahanya itu dengan hasil kerjanya jika mendapat perjalanan dinas atau mengajar pengelolaan sampah.

“Kalau lagi nggak ada pembeli, saya tidak mungkin menyetop kegiatan tenaga kerja saya. Bisa patah semangat mereka. Jadi sementara barang-barang itu tidak laku, ya saya harus menanggulanginya,” ujarnya.

Begitulah Soffia menjalankan usahanya tersebut yang Desember nanti genap berusia empat tahun. Namun kini dia dilanda kerisauan. Usia kehamilannya yang semakin tinggi membuat dia tidak bisa banyak melakukan perjalanan dinas atau mengajar. Itu artinya ia tidak akan punya banyak daya untuk mengsubsidi usahanya tersebut. Namun kebalikannya, para penjahitnya kini yang sudah mulai terampil makin tinggi produksinya. Masyarakat juga sekarang banyak yang mengantar sampah ke tempatnya.

“Jadi asal sampah kita tak banyak lagi dari tempat sampah. Sampah sudah relatif bersih karena sudah langsung dari rumah. Penjahit dan penganyam juga sudah semakin terampil. Produksi mereka meningkat, kualitasnya juga semakin baik. Jadi harus dibayar lebih tinggi. Tetapi persoalannya saya kewalahan memasarkannya. Apalagi kondisi saya sedang hamil begini,” ujarnya.

“Dulu waktu warung ini mulai diresmikan Pak Wali Kota sebagai warung 3R, Pak Wali janji membantu memasarkan. Meminta instansinya untuk membantu memasarkan. Keesokannya memang banyak dari instansi terkait tersebut yang mendatangi saya, tetapi sudah itu tak ada kelanjutannya,” ungkapnya.

Padahal menurut perempuan ini, kalau saja lima instansi saja di Kota Pekanbaru mau memanfaatkan hasil produk mereka untuk kegiatan seminar atau pelatihan, berapa banyak sampah yang bisa mereka olah. Berapa banyak pula pendapatan yang mereka berikan untuk para pengrajin dan pemulung.
***

Memasarkan produk daur ulang sampah plastik memang bukan perkara mudah. Hal itu diakui oleh Kepala PPLH Regional Sumatera Sabar Ginting, pengamat ekonomi Prof Zulkarnain, Direktur Eksekutif Kamar Dagang Industri (Kadin) Riau Muhammad Herwan, Sekretaris Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Riau Hendri Rustam, Tenaga Penyuluh Disperindag Riau Syafruddin, Kepala BLH Kota Pekanbaru Adriman, Kepala Bidang UMKM Dinas Koperasi dan UMKM Kota Pekanbaru Firmansyah dan staf Dinas Koperasi dan UMKM Kota Pekanbaru Mas Irba.

Dalam wawancara dengan mereka dalam sepekan ini, mereka menyebutkan secara umum produk UMKM memang sulit dipasarkan. Baik karena kualitas produk yang masih sekadarnya saja hingga belum terbangunnya jaringan pasar. Di tambah lagi karena produk yang dijual itu produk daur ulang. “Asumsi masyarakat harus diubah dulu. Coba ubah kata sampah atau limbah dalam produk itu. Jadi produk itu tidak dianggap dari sampah,” ujar Mas Irba.

Selain itu, produk daur ulang masih rendah kualitasnya. “Kita sudah lihat produknya, pembuatannya banyak yang masih kasar. Selain harganya belum mampu bersaing. Kami sudah sarankan untuk membuat produk unggulan, yang cantik, menarik, namun harganya murah,” ujar Syafrudin, Hendri Rustam, dan Herwan hampir senada.

Selain itu, tentang harapan Soffia agar instansi di Kota Pekanbaru menjadi pembeli produknya, Adriman dan Firmansyah mengaku anggaran di instansi mereka terbatas. “Paling-paling hanya bisa untuk pameran,” ujar Firmansyah.

Menyadari sulitnya pemasaran produk daur ulang, Sabar Ginting mencoba mengambil peran. Sebagai perpanjangan tangan Kementerian Lingkungan Hidup di Sumatera, mereka berkewajiban memajukan usaha daur ulang tersebut. Oleh karena itu, dia mengambil kebijakan untuk membeli produk daur ulang yang diproduksi oleh Dalang Collection. Produk itu mereka manfaatkan untuk seminar kit bila ada pelatihan.

“Saya sering bilang ke Kabid (kepala bidang) saya, jangan pandang Soffia Seffennya, tetapi pandanglah para pemulung yang ada dibelakangnya. Sekaligus inilah bentuk kita secara nyata melestarikan Sumber Daya Alam dan menjaga lingkungan,” ujarnya.
Untuk itulah dia sangat menghimbau agar instansi lain juga melakukan hal yang sama. Imbauan dan perannya dalam mempromosikan dan memasarkan produk tersebut cukup membuahkan hasil. Setidaknya dari situlah selama ini produk Dalang Collection mendapat pasar.

“Kalau saya lihat di Muara Enim, produk daur ulang mereka banyak dibantu dibeli oleh BUMD dan BUMN. Saya berharap, di sini juga ada yang membantu jadi bapak angkat. Dalang Collection, jangan sampai mati suri!” pesannya, sembari menyebutkan hari itu, merupakan hari terakhirnya bertugas di Pekanbaru sebagai Kepala PPLH Regional Sumatera.

Selain itu, untuk membantu memasarkan produk daur ulang tersebut, menurut Prof Zulkarnain harus ada upaya berbagi peran. Terutama peran pemerintah, yang harus membangunkan jaringan pasar bagi komoditas ini. Sekaligus memposisikan diri sebagai buyer (pembeli) utama.

“Jangan didorong masyarakat saja, tetapi pemerintah tidak berbuat,” ungkap penulis buku Pemberdayaan Masyarakat Miskin ini.

Peran lain yang juga tak kalah pentingnya adalah peran Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan lembaga pendidikan tinggi. “LSM kan punya jaringan yang cukup luas, bahkan keluar negeri. Begitu juga perguruan tinggi. Selama ini saya melihat perguruan tinggi kurang mengangkat isu-isu tentang UMKM ini dalam seminar-seminar. Bahkan kalau bisa, Perguruan Tinggi bisa membangun pusat bisnis untuk para UMKM ini” paparnya sambil mengungkapkan hal itu perlu didorong oleh media massa.
Selain peran pemerintah, LSM, perguruan tinggi, tambah Firmansyah dan Herwan juga diperlukan peran aktif swasta.

“Pihak swasta harus mau menjadi pemakai atau pembeli produk daur ulang ini. Kalau diharapkan kepada pemerintah saja kemampuan kita terbatas. Apalagi anggaran kita untuk UMKM ini hanya Rp700 juta. Padahal UMKM kita di Kota Pekanbaru saja sekitar 9.036. Kita paling-paling hanya membeli untuk produk contoh,” ungkap Firmansyah.

“Kadin sendiri secara nasional sudah mengkampanyekan penggunaan produk daur ulang ini. Itulah sebabnya pada seminar kit, kami rata-rata menggunakan produk daur ulang. Beberapa waktu lalu kami juga melaksanakan pelatihan di mana guru-guru PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) dilatih untuk membuat alat peraga belajar dari bahan-bahan bekas. Itu semua untuk membangun kesadaran akan arti pentingnya menjaga lingkungan,” jelas Herwan.

Terpenting, tambah Herwan, untuk menyelesaikan persoalan ini diperlukan tanggung jawab dan kampanye bersama secara simultan yang dilakukan oleh berbagai pihak untuk mendorong penggunaan produk daur ulang.

Jika semua pihak mau bertanggung jawab menjadi pemakai dan membantu pemasaran produk daur ulang, tentulah Dalang Collection tidak akan mati suri. Semoga.***

Selasa, 12 Oktober 2010

Penilaian Terhadap Kota Anda (Memperingati Hari Habitat Sedunia)


Setiap Hari Senin, minggu pertama Oktober diperingati sebagai Hari Habitat Sedunia. Sebagai renungan terhadap keadaan kota-kota saat ini dan juga mengingatkan tanggung jawab bersama untuk masa depan habitat (tempat tinggal) manusia. Khusus tahun ini diperingati pada tanggal 4 Oktober besok dengan tema Better City, Better Life (Kota yang Lebih Baik, Kehidupan yang Lebih Baik). Sebutkan kota tempat Anda tinggal sekarang dan apakah menurut Anda kota Anda itu tersebut sudah baik atau belum? Alasannya? dan saran Anda untuk kota tersebut?


Panam. menurut saya di Panam ini makin lama banyak penebangan pohon karena developer banyak membangun perumbahan. Saran saya, jika ingin mengembangkan kota yang sudah mulai penuh ini, maka perhatikan juga etika lingkungannya.
RISMA YULIARNI
Panam

Tempat tinggal saya sekarang sudah termasuk baik dalam menjaga lingkungan. Satu hal yang membuat saya terkesan dengan kota-kota di luar negeri yaitu kebersihan yang selalu menjadi prioritas. Jarang sekali ada penduduk yang membuang sampah sembarangan, karena bisa dikatakan hampir seluruh penduduk Golden adalah environmentalists. Tempat sampah ada di berbagai tempat, dan diklasifikasikan (recycle, non-recycle, kertas, dan lain-lain). Hampir seluruh perumahan atau tempat tinggal, tempat umum, dan sekolah memiliki pekarangan yang sangat hijau. Go Green!
MARIA PATRICIA A TJOKROSEPOETRO
Golden Colorado, Amerika Serikat

Ujung Batu, Kabupaten Rokan Hulu, menurut saya, kota saya belum begitu baik. Sebab, peran pemerintah terhadap keberadaan pohon untuk menghiasi jalan-jalan yang ada belum begitu terlaksana. Suhu atau cuaca yang terjadi cukup ekstrem jika pada siang hari. Harapan ke depannya, semoga pemerintah Kabupaten Rokan Hulu, khususnya Ujung Batu lebih baik lagi, dan bekerja sama dengan masyarakat untuk menangani kebersihan sampah dan tata ruang kota. Dan, semoga dapat diadakan nya event penanaman satu juta pohon agar lingkungan lebih indah dan asri.
AZHARI PRATAMA
Kelas XII Tkj 1 SMK Multi Mekanik Masmur


Bogor kotaku. Kebanyakan angkot bikin mobilitas terganggu. Macet, apalagi kalau hujan. Gerbong kereta ekonomi sudah seperti kamar gas Hitler, bikin sesak nafas.
REDI SATRIAWAN
Mahasiswa IPB

Muara Lembu merupakan kota yang saya tempati pada saat ini. Kota ini belum seluruhnya memiliki tempat tinggal dan kehidupan yang baik. Karena beberapa faktor, seperti lingkungan yang tercemar. Kami sangat berharap partisipasi warga dan masyarakat khususnya untuk mewujudkan nilai-nilai budaya dan adat istiadat yang dapat membangun dan menjaga kota serta kehidupan kita kearah lebih baik.
ADE TRIA PUTRA
Muara Lembu


Kabupaten Rokan Hulu, adalah kota yang lebih baik dibandingkan dari empat tahun yang lalu. Dulu belum dirasakan oleh masyarakat akan majunya perkembangan. Baik itu pembangunan di ibu kota dan pedesaan. Sekarang, sudah dirasakan kemajuan selama pimpinan Bupati Drs Ahmad MSi. Saran untuk lima tahun ke depan mohon pembangunan untuk jalan karena sumber ekonomi masyarakat pedesaan adalah jalan. Baiknya jalan, maka ekonomi masyarakat pasti akan baik juga.
M DENAN
Guru SD N 017 Rambah Hilir
Kabupaten Rokan Hulu

Menjual Karbon di Lahan Gambut: Uang atau Umur Panjang?





Karbon di lahan gambut menjadi komoditas baru yang digadang-gadangkan menjadi sumber keuangan baru bagi daerah pemilik lahan gambut.

Laporan Andi Noviriyanti, Pekanbaru andinoviriyanti@riaupos.com
Beberapa orang peserta Wokshop Asean bertemakan Options for Carbon Financing to Support Peatland Management, awal pekan lalu, yang duduk di deretan belakang hanya bisa menggeleng-geleng kepala. “Jauh panggang dari api,” ungkap Edyanus Herman Halim, pengamat ekonomi sekaligus juga penasehat dari program menghadapi perubahan iklim di Provinsi Riau.

Dosen ekonomi Universitas Riau ini, memastikan perdagangan karbon yang digadang-gadangkan sebagai komoditas baru bernilai jual tinggi bagi Riau sebagai pemilik hutan sekaligus lahan gambut terbesar di Sumatera masih sebuah angan yang entah kapan bisa direalisasikan. Tim ahli dan Pusat Informasi Perubahan Iklim (PIPI) Riau Prof Adnan Kasri dan Prof Rifardi juga sependapat. Perdagangan karbon masih merupakan sebuah ketidakpastian. Ada sederetan persoalannya sangat kompleks di dalamnya.

Ibaratnya, barangnya ada, namun tak jelas berapa jumlahnya. Alat untuk mengukurnya ada, tetapi tak tahu bagaimana cara mengukurnya. Kalaupun ada metode atau cara mengukurnya, persoalannya apakah itu diakui. Pasalnya perdagangan karbon memastikan bahwa jual beli itu harus dapat dihitung, dilaporkan dan diverifikasi atau dikenal dengan istilah MRV (measurable, reportable, and verifiale).

Meskipun hal itu pelik dan masih menjadi tantangan terbesar, namun negara-negara ASEAN (Asia Tenggara), termasuk Indonesia tak boleh lalai dalam soal jual beli karbon tersebut. Pasalnya negara-negara ASEAN, terutama Indonesia adalah pemilik lahan gambut yang mampu menyimpan lebih dari 50 miliar ton karbon atau 6.000 ton karbon per Ha atau lebih dari sepuluh kali lebih tinggi dibandingkan cadangan karbon di tipe hutan lainnya. Selain itu, lahan gambut di Asia Tenggara ini merupakan cadangan karbon terbesar di regional Asia yang sangat mempengaruhi kondisi iklim regional maupun global.

Apalagi buat Indonesia, khususnya Riau. Lahan gambut Indonesia seluas 32,65 juta Ha sementara 17 persennya berada di Riau (5,7 juta ha). Bagi Provinsi Riau, luas lahan gambut sebesar itu adalah kurang lebih setengah dari luas kawasannya. Berdasarkan data Wetlands tahun 2002, potensi kandungan karbonnya mencapai 14 ribu juta ton. Dengan demikian menurut Emrizal Pakis, Asisten II Setdaprov Riau, dalam workshop tersebut, Riau memiliki potensi menjadi penjual karbon.

Menjual karbon dalam hal itu, juga memiliki makna ganda. Pasalnya bukan saja berarti penjualan karbon, tetapi sekaligus juga mewujudkan pengelolaan gambut yang berkelanjutan. Karena kandungan karbon yang ada tersebut tidak akan pernah bisa dijual jika lahan gambutnya tidak dikelola dengan kaedah-kaedah kelestarian.
***
Untuk membuat karbon lahan gambut bisa dijual, ASEAN harus bersatu untuk memasukkannya sebagai salah satu poin utama dalam negosiasi perubahan iklim internasional, melalui pengembangkan kebijakan di atas kertas dan meningkatakan peranan ASEAN dan mekanisme lainnya. Hal itu menjadi salah satu rekomendasi yang dicapai dalam workshop yang selenggarakan atas kerja sama Sekretariat ASEAN dan Global Environment Center (GEC) berkoordinasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup RI dan Badan Lingkungan Hidup Provinsi Riau tersebut.

Selain itu, peserta workshop yang berasal dari 14 negara, terutama negara-negara ASEAN juga merekomendasikan pembangunan kapasitas untuk pembiayaan karbon lahan gambut termasuk mengembangkan materi manual dan training untuk pembiayaan karbon di lahan gambut. Termasuk juga mengadakan pertemuan regular, training dan membuat jaringan untuk berbagi pengalaman individual.

Rekomendasi lainnya adalah pembentukan jaringan regional dan direktori uji atau situs belajar bersama untuk pembiayaan karbon di lahan gambut. Meningkatkan metodologi yang ada dan mengembangkan serta memperkenalkan petunjuk aplikasi dari metodologi pada situasi yang berbeda. Melakukan penelitian lebih lanjut untuk meningkatkan pemahaman dan melakukan monitoring stok dan emisi karbon jangka panjang. Mengembangkan program contoh di Riau untuk mengembangkan atau membandingkan pilihan yang berbeda untuk lahan gambut. Terakhir mendorong adanya pendanaan untuk mendukung pengelolaan lahan gambut dan pengembangkan lebih lanjut proyek karbon lahan gambut.
***

Meskipun saat ini mekanisme perdagangan karbon untuk lahan gambut yang resmi masih jauh panggang dari api, namun Dr Daniel Murdiyarso dari peneliti CIFOR menyatakan bahwa mekanisme perdagangan karbon secara sukarela cukup terbuka luas. Bahkan saat ini di sejumlah daerah telah dilakukan berbagai projek perdagangan karbon sukarela ini.

“Saat ini mekanisme sukarela berkembang jauh lebih cepat dari aturan resmi. Itu merupakan peluang. Kita semua saat ini sedang mencoba dan melakukan. Kekurangan itu pasti ada. Namun kita tidak bisa menunggu semuanya baik dan teratur baru mau melakukan sesuatu. Ini bagian dari kita semua untuk belajar,” ujar Daniel agar tidak memandang pesimis terdahap perdagangan karbon.

Menurutnya Daniel persoalan perdagangan karbon di lahan gambut bukan saja persoalan uang. Namun ada pilihan lainnya, yakni bagaimana cara kita mengatur lahan gambut lebih baik. Selama ini memang sudah ada, tetapi belum maksimal. Mungkin dengan mekanisme yang baru ini, lahan gambut bisa lebih lestari. “Setidak-tidaknya, membuat lahan gambut dengan semua kekayaannya baik berupa hutannya, keanekaragaman hayatinya dan pengelolaan tata airnya bisa berumur lebih panjang,” imbuhnya.

Suatu saat nanti, mungkin kita semua baru bisa mengerti lahan gambut yang berumur lebih panjang, memiliki harga jauh lebih tinggi dari uang yang kita harapkan.***

Senin, 04 Oktober 2010

Bisahkah Gajah dan Manusia Hidup Berdampingan?

Dari Workshop Strategi Manajemen Konservasi Gajah Sumatera di Provinsi Riau terungkap bahwa lima dari sembilan kantong gajah di Riau berada dalam status kritis. Lima kantong gajah tersebut adalah Mahato, Koto Tengah, Balai Raja, Giam Siak Kecil, dan Petapahan. Hal ini memicu tingginya konflik gajah dan manusia di Riau. Bahkan dalam dua pekan terakhir konflik gajah dan manusia terjadi di tiga tempat yaitu Siak, Indragiri Hulu dan Kabupaten Kuantan Singingi. Menurut Anda, bisa atau tidak kah manusia hidup damai berdampingan dengan gajah? Bagaimana caranya?


Sudah sejak lama manusia dan gajah hidup berdampingan. Jika saat ini banyak terjadi konflik antara manusia dan gajah, menurut saya itu disebabkan tangan-tangan jahil manusia itu sendiri. Manusialah yang merusak keseimbangan alam ini. Konflik manusia dan gajah menjadi peringatan bagi kita untuk kembali melakukan revitalisasi kawasan konservasi gajah, mengembalikan habitat asli gajah yang hilang dan menindak siapapun yang mencoba merusak habitat gajah sesuai dengan hukum yang berlaku.
PRIMA ANREAS SIREGAR
Mahasiswa Pascasarjana Magistar Sains Manajemen UNRI

Menurut saya, asalkan kita tidak merusak hutan dan ekosistem alam yang dapat membuat tempat tinggal gajah menjadi terbengkalai. Tidak memburu gajah demi kepentingan pribadi. Tentu kita bisa hidup berdampingan dengan gajah. Saran saya, marilah kita menjaga kelestarian hutan yang merupakan tempat tinggal gajah dan jangan mengambil kepentingan pribadi tanpa harus memikirkan dampaknya ke depan.
RAMSES HUTAGAOL
Prov SATPOL-PP Rokan Hulu

Bisa saja, asalkan adanya peran dari masing-masing warga dalam hal konservasi, jika warga tidak ingin ada gajah yang mengamuk atau berkonflik dengan gajah. Gajah kan bukan hewan yang buas. Peran pemerintah dan para pemerhati lingkungan juga penting untuk mengontrol keadaan atau kehidupan yang ada. Caranya kita harus memberikan sumbangan besar dengan cara memberi tempat tinggal atau penangkaran yang layak serta tidak jauh dari pemukiman warga agar semua dapat terkontrol dengan baik.
AZHARI PRATAMA
Kelas 3 TkJ 1 SMK Masmur Pekanbaru

I Think, manusia dapat hidup berdampingan dengan gajah. Hanya saja manusia harus dapat melestarikan dan menjaga habitat natural dari kantong-kantong gajah. Sehingga gajah-gajah yang khususnya ada di Provinsi Riau, tidak lagi melakukan serangan kepada warga yang tinggal di sekitarnya. Disamping itu juga, baik pemerintah maupun warga harus melindungi mereka dari perbuatan orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
iznul azwan
Mahasiswa Jurusan Manajemen Informatika FMIPA UNRI






Mewujudkan Pekanbaru Berbuah, Berujung Tombak di Masyarakat

Masyarakat yang menentukan lokasi, jumlah, dan jenis tanaman serta kapan pelaksanaan Program Pekanbaru Berbuah di daerah mereka masing-masing.

Laporan Andi Noviriyanti, Pekanbaru andinoviriyanti@riaupos.com
Senyum optimis jelas terlihat di wajah Rusmani Said, Koordinator Program Nasional Pemberdayaan Kemiskinan (PNPM) Mandiri Perkotaan Kota Pekanbaru, dua pekan silam. Pria ini begitu yakin, PNPM Mandiri yang dikoordinasikannya akan mampu menyukseskan Program Pekanbaru CGaF (baca: Sigaf). Yakni Program Pekanbaru Clean, Green, and Fruitful (CGaF) atau program menjadikan Kota Pekanbaru Bersih, Hijau, dan Berbuah. Dengan ujung tombak saat ini menjadikan Kota Pekanbaru, sebagai Kota Berbuah.

“PNPM Mandiri Perkotaan memiliki jaringan hingga ke tingkat RT. Ada 58 LKM (Lembaga Keswadayaan Masyarakat) yang berada di tiap kelurahan di Kota Pekanbaru dan sekitar 6.000 relawannya yang berada hingga ke tingkat RT,” ujar Rusmani menjelaskan kekuatan PNPM Mandiri Perkotaan terbaik nomor tiga di tingkat nasional ini

“Insyah Allah, kami sanggup,” tambahnya lagi menanggapi tantangan yang disampaikan Koordinator Tim Pemberantasan Kemiskinan (KTPK) sekaligus Sekretaris Daerah Kota Pekanbaru Yusman Amin, yang hari itu bersama Riau Pos mengadakan rapat kecil bersama PNPM Mandiri untuk membahas teknis pelaksanaan Program Pekanbaru CGaF yang dilaksanakan untuk menyambut dua dekade Riau Pos, 17 Januari mendatang.

Rusmani yang hari itu juga didampingi Asisten Manajemen Infrastruktur Lusi Dwi Putri dan Asisten Manajemen Datanya Risnaldi juga menyatakan Program Pekanbaru CGaF sejalan dengan semangat PNPM untuk memberdayakan masyarakat. Bahkan bisa menjadi nilai tambah bagi mereka di tingkat nasional. Mengingat program Pekanbaru CGaF memalui program Pekanbaru Berbuahnya tidak saja bertujuan untuk menghijaukan dan meningkatkan kesehatan masyarakat tetapi juga berdampak ekonomi. Dimana akan mampu mengurangi belanja masyarakat untuk konsumsi buah dan sekaligus dapat menjadi produsen buah di Kota Pekanbaru yang rata-rata mengimpor buah dari luar negeri ataupun luar daerah.

“Program ini juga bisa disenergikan dengan sejumlah program LKM. Banyak di antara LKM kami yang telah berhasil mengembangkan KSM (Kelompok Swadaya Masyarakat) untuk memproduksi pupuk dari pemanfaatan sampah organik. Nanti, kalau program ini berjalan, pupuknya jangan beli dari luar, tetapi disuplai dari KSM-KSM tersebut. Selain itu jika program berbuahnya menggunakan pot, ada juga KSM yang telah mengembangkan usaha produksi pot. Potnya juga bisa dibeli dari mereka,” terangnya lagi.

Tak sampai di situ, Rusmani juga membayangkan bila Program Pekanbaru Berbuah bisa memproduksi nangka mini yang bisa disuplai ke rumah-rumah makan. “Pasti banyak permintaan untuk ini. Jika semua itu, kita yang suplay, itukan pemberdayaan ekonomi juga,” tambahnya lagi.

Pohon buah-buahan itu, tambahnya juga bisa menjadi pohon peneduh di jalan-jalan lingkungan perumahan warga yang berhasil mereka bangun kerja sama pemerintah dan swadaya masyarakat.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Kota Pekanbaru Yusman Amin, juga menyatakan program ini akan berhasil bila didukung oleh PNPM Mandiri Perkotaan. “Saya kurang setuju, jika program Pekanbaru CGaF jadi program yang sama dengan Program Kamis Menanam (program menanam pohon setiap hari Kamis sebanyak 150 batang, red). Kalau program Kamis menanam yang kerja seperti hanya pemerintah. Berbeda dengan program gotong royong yang dilaksanakan oleh PNPM Mandiri melalui LKM-LKM mereka yang ada di kelurahan. Masyarakat yang berperan aktif dan mengundang kita untuk hadir pada kegiatan tersebut,” ujar Yusman.

Pelibatan PNPM Mandiri Perkotaan sekaligus juga merubah sejumlah format pelaksanaan program Pekanbaru CGaF. Bila awalnya program Pekanbaru berbuah bersifat top down (dari atas ke bawah) , saat ini menjadi down top (bawah ke atas). Pelaksaan program benar-benar melibatkan warga masyarakat dan ditentukan oleh masyarakat.
***
Aula Kantor Bappeda Kota Pekanbaru, Selasa (28/9), terasa penuh sesak. Ratusan warga masyarakat, puluhan penyuluh tampak memadati ruangan di lantai III tersebut. Sebagian peserta Sosialisasi Program Pekanbaru CGaF terpaksa harus berdiri karena tidak kebagian tempat duduk.

Hari itu, untuk pertama kalinya program Pekanbaru CGaF disosialisasikan kepada masyarakat Kota Pekanbaru lewat 58 LKM yang berada di tiap-tiap kelurahan.
Dari pertemuan tersebut hadir dari Pemerintah Kota Pekanbaru (Kepala Dinas Pertanian sekaligus juga Ketua Pelaksana Pekanbaru CGaF yang ditunjuk Wali Kota Pekanbaru Sentot D Prayetno), Riau Pos (Ketua dan sekretaris Pekanbaru CGaF untuk internal Riau Pos M Nazir Fahmi dan Andi Noviriyanti), PNPM Mandiri Perkotaan (Rusmani Said), maupun PT Arara Abadi (Musherizal Yatim) yang dalam hal ini salah satu mitra Riau Pos yang berkomitmen untuk menyediakan bibit buah dari Balai Pelatihan dan Pemberdayaan Masyarakt (BPPM). ***

Beberapa hal yang menjadi kesepakatan pertemuan tersebut adalah bahwa tim Pekanbaru CGaF (yakni Riau Pos, Pemko, PT Arara Abadi dan mitra lainnya) menyediakan bibit, pupuk, tenaga penyuluh, dan memasarkan buah-buahan tersebut. Sementara itu PNPM Mandiri Perkotaan bersama LKM-LKMnya, membuat perencanaan tentang pelaksanaan program Pekanbaru Berbuah di kelurahaan masing-masing. Mulai dari menentukan jenis buah yang ditanam, berapa jumlahnya, kapan dilaksanakan program tersebut. Termasuk menentukan tempat atau lahannya, menyediakan pot bila ditananam di pot, menyediakan pagar bila ditanam di halaman atau pinggir jalan, serta melakukan pemeliharaannya.

“Jadi progam ini dimulai dengan sosialiasi kepada masyarakat, lalu masyarakat melalui LKM melakukan rembug kesiapakan masyarakat dan pendaftaran relawan. Setelah itu dilakukan pemetaan bersama tenaga penyuluh pertanian yang telah ditetapkan untuk menentukan jenis tanaman apa yang cocok di tempat mereka. Kemudian semua itu koordinasikan dengan PNPM. Barulah kegiatan dapat dilaksanakan,” ujar Rusmani di akhir pertemuan.

Semoga Program Pekanbaru Berbuah ini bisa terwujud dengan peran serta aktif masyarakat!